Jumat, 27 Maret 2015

Tugas Pengantar Kreativitas dan Keberbakatan

Nama:   Ajeng Septiana
Kelas:   1PA10
NPM:   10514662

1.      Product
·         Restoran berkonsep Psikologi dengan nama “Wundt & Freud Resto”.
      Nama “Wundt & Freud Resto” diambil dari nama tokoh-tokoh psikologi, Wilhelm Wundt merupakan Bapak Psikologi Eksperimental, sedangkan Sigmun Freud adalah tokoh Psikoanalisa sekaliagus Bapak Psikologi Modern. 
      Design restoran maupun menu yang ditawarkan berhubungan dengan Psikologi. 
      Contohnya:     -    Design bangunan dan tata letak diatur senyaman mungkin dengan tujuan pengunjung yang datang akan menjadi relax dan bahagia.
                              -          Properti yang digunakan berhubungan dengan konsep Psikologi, seperti lukisan-lukisan tokoh psikologi dan Quotes.
                              -          Daftar nama menu makanan yang ditawarkan diambil dari istilah-istilah ilmu psikologi.
                              -          Adanya permainan dengan alat-alat tes psikologi sederhana.

2.      Person
·         Yang terlibat dalam penciptaan karya kreatif   :   Teman kelompok (Eka Purwaningsih, Hely Adly, Nurhickmah, Wisnu Darmawan), keluarga, dan teman satu kelas
·         Yang mendukung keberhasilan penciptaan karya kreatif :
       -          Universitas Gunadarma
       -          Dosen
       -          BPOM
       -          LPPOM MUI
       -          DINAS KESEHATAN
·         Peran 
       -          Universitas Gunadarma                : Sebagai sarana promosi.
       -          Dosen                                            : Memberi saran dan pengarahan untuk keberhasilan produk.
       -          BPOM                                           : Memberi lisensi dan sertifikat untuk produk yang dipasarkan.
       -          LPPOM MUI                                : Memberi sertifikat halal.
       -          DIKES                                          : Memberi kebijakan teknis di bidang kesehatan dan teknis administrasi ketatausahaan.
·         Target :  Untuk umum

3.      Press
·         Motivasi kelompok kami menciptakan karya tersebut :
       -          Yang memotivasi kami untuk membuat restoran dengan konsep psikologi adalah karena belum ada restoran yang memakai konsep psikologi.
       -          Ingin membuat usaha yang berhubungan dengan latar belakang pendidikan di Universitas.
       -          Ingin menambah pengalaman.
       -          Memperluas Networking.
·         Dampak Positif dan negatif :
       -          Positif        : 1.  Mendapatkan penghasilan.
                                  2.      Menghilangkan penat.
                                  3.      Memperluas networking.
                                  4.      Memperbanyak teman.
                                  5.      Kalangan umum jadi lebih mengetahui tentang ilmu dan konsep Psikologi.
                                  6.      Banyak yang berminat dengan ilmu Psikologi.
                                  7.      Menambah pengalaman
       -          Negatif      : 1. Cukup menyita waktu.
·         Prediksi kedepan untuk karya yang kami buat :
       -          Pengunjungnya akan tertarik karena konsep restoran yang beda dari yang lain.
       -          Mayoritas pengunjungnya adalah remaja.
       -          Akan berkembang pesat.
       -          Akan memjadi trendsetter restoran berkonsep psikologi.
·         Yang mendukung atau menggagalkan implementasi terhadap produk :
       -          Mendukung           :  1. Ilmu psikologi berkembang pesat sehingga banyak masyarakat umum yang lebih ingin tahu  tentang psikologi.
                                               2.      Masyarakat suka dengan restoran bertema unik.
       -          Menggagalkan       : 1.  Akses menuju lokasi yang sulit.
                                              2.      Harga kurang terjangkau / Mahal.
                                              3.      Tempat dan suasana yang kurang nyaman.
·         Cara mengantisipasi kegagalan :
       -          Memilih lokasi yang strategis dan terjangkau.
       -          Membuat harga yang terjangkau.
       -          memberikan pelayanan memuaskan baik suasana dan fasilitas lainnya seperti toilet yang bersih, wifi, televisi, live music, games.

4.      Proses
·         Langkah – langkah      :
1.      Membuat konsep
2.      Membuat nama product
3.      Menentukan menu makanan
4.                  Mencari lokasi yang strategi
5.      Mengurus izin lokasi
6.      Mengurus izin usaha
7.      Mengurus izin dari Dinas Kesehatan
8.      Mengurus izin dari BPOM
9.      Mengurus izin dari LPPOM MUI
10.  Membuat desain/tata letak bangunan
11.  Mendirikan bangunan
12.  Mengatur tata ruang
13.  Promosi
14.  Menjalankan bisnis

Rabu, 18 Maret 2015

PERSEPSI

PERSEPSI


Ø   Proses Terjadinya Persepsi
Penjelasan:      Proses awal dimulai dengan stimulus yang dapat berupa suara atau cahaya atau aroma atau apapun yang berupa rangsangan masuk kedalam ambang batas,  kemudian rangsangan tersebut mulai dirasakan oleh alat indera (proses ini disebut proses alamiah/fisik) selanjutnya stimulus diteruskan oleh syaraf sensoris ke otak (proses ini disebut proses fisiologis). Setelah stimulus dirasakan oleh alat indera dan diteruskan oleh syaraf sensoris ke otak munculah suatu sensasi, sensasi adalah suatu informasi yang belum dimaknai/diproses oleh otak, kemudian sensasi mulai dipengaruhi oleh  hal-hal yang memungkinkan terjadinya persepsi seperti objek, perhatian, alat indera dll. Lalu terbentuklah suatu persepsi, yaitu informasi yang telah dimaknai/diproses oleh otak, sehingga individu mulai sadar akan stimulus apa yang telah didapat (proses ini disebut proses psikologis).
                        Alat indera manusia terdiri dari indera pengelihatan, pendengaran, peraba, pembau dan pengecap, namun kita tidak dapat memungkiri bahwa ada Exrasensory Perception yang ikut berperan saat terjadinya persepsi. Dalam extrasensory perception inilah alam bawah sadar sangat berperan sehingga kebanyakan orang menyebutnya Indera ke-6. Diantara ke-5 indera manusia ditambah extrasensory perseption tersebut ada indera yang paling penting atau besar peranannya, yaitu indera Pendengaran dan Indera Pengelihatan. 
                        Persepsi sendiri terbagi menjadi 2, yaitu Persepsi Visual dan Persepsi Individual.         Persepsi Visual adalah kemampuan manusia untuk menginterpretasikan informasi yang ditangkap oleh mata. Hasil dari persepsi ini disebut sebagai penglihatan (eyesight, sight atau vision).

 Ã˜  Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Persepsi
         Setelah diteima, stimulus akan diseleksi karena tidaklah mungkin untuk memperhatikan semua stimulus yang telah diterima. Demi menghemat perhatian yang digunakan, stimulus-stimulus tersebut disaring dan diseleksi untuk diproses lebih lanjut. Ada 2 faktor yang menentukan seleksi stimulus tersebut, yaitu faktor internal dan ffaktor eksternal.
1.      Faktor Internal
Faktor-faktor internal adalah faktor-faktor yang  berkaitan dengan diri sendiri. Faktor-faktor tersebut yakni sebagai berikut:
a)      Alat Indera, Syaraf dan Pusat Susunan Syaraf
Alat indera atau reseptor berfungsi untuk menerima stimulus. Sedangkan syaraf sensori berperan dalam meneruskan stimulus yang diterima reseptor ke pusat susunan syaraf yaitu otak sebagai pusat kesadaran. Agar terjadi respons maka diperlukan juga syaraf motorik.
b)      Perhatian
Agar terjadi proses persepsi diperlukan perhatian, yaitu proses atau tahap pertama sebagai persiapan mengadakan persepsi. Perhatian adalah pemusatan atau pengonsentrasian seluruh aktivitas individu pada satu atau sekumpulan kelompok.
c)      Kebutuhan Psikologis
Kebutuhan psikologis seseorang mempengaruhi persepsinya. Dalam suatu percobaan pada orang-orang yang dibiarkan lapar untuk beberapa waktu, diperlihatkan beberapa gambar dan mereka diminta menuliskan apa yang mereka lihat. Hasilnya kebanyakan dari mereka menyatakan adanya makanan dalam persepsi mereka.
d)     Latar Belakang
Latar belakang mempengaruhi hal-hal yang dipilih dalam persepsi. Orang-orang dengaan latar belakang tertentu akan mencari orang-orang dengan latar belaknag yang serupa dengan mereka. Merka mengikuti dimensi tertentu yang serupa dengan mereka. Contohnya, seseorang yang mengalami pendidikan dalam suatu institut manajemen, lebih mendekati orang lain yang mempunyai pendidikan serupa jika ia masuk dalam suatu organisasi.
e)      Kepribadian
Kepribadian juga mempengaruhi persepsi. Seorang yang introvert mungkin akan tertarik pada orang-orang yang serupa atau sama sekali berbeda dengannya. Berbagai faktor dalam kepribadian mempengaruhi seleksi dalam persepsi.
f)       Penerimaan Diri
Penerimaan diri merupakan sikap penting yang mempengaruhi persepsi. Beberapa penelitian telah menunjukan bahwa orang-orang yang lebih ikhlas menerima kenyataan diri akan lebih tepat menyerap sesuatu, daripada mereka yang kurang ikhlas dalam menerima realitas hidupnya.


2.      Faktor Eksternal
Faktor eksternal adalah faktor-faktor yang muncul bukan dari dalam diri sendiri atau berkaitan dengan diri sendiri, faktor-faktor ini berasal dari luar atau lingkungan.
a)      Objek yang dipersepsi
Persepsi mengandaikan adanya objek yang dipersepsi. Objek ini menimbulkan stimulus yang memicu atau merangsang alat indera atau reseptor. Walaupun sebagian besar stimulus itu datang dari luar, ada juga stimulus yang datang dari dalam individu yang memersepsi.
b)      Nilai-nilai dan Kebutuhan Individu
Sistem nilai yang berlaku dalam suatu masyarakat berpengaruh pula terhadap persepsi. Suatu eksperimen di Amerika Serikat (Bruner & Godman, 1947 dalam Baker, Rierdan & Wapner, 1974) menunjukan bahwa anak-anak yang berasal dari keluarga miskin mempresepsikan mata uang logam lebih besar daripada ukuran yang sebenarnya. Gejala ini tidak terdapat pada anak-anak yang berasal dari keluarga kaya.
Kebutuhan-kebutuhan sesaat maupun yang menetap pada diri sendiri seseorang, akan mempengaruhi persepsi orang tersebut. Dengan demikian, kebutuhan –kebutuhan yang berbeda akan menyebabkan perbedaan persepsi. Misalnya, sepasang suami istri berbelanja ke mal. Sang suami memilih pergi ke toko olahraga atau aksesorid mobil sedangkan istrinya langsung mencari toko tas dan sepatu. Ketika pulang, suami mengeluh bahwa mal itu serba mahal (alat-alat olahraga dan aksesoris mobilnya), sementara istri dengan riang mengatakan bahwa mal itu yang paling OK harganya (maksudnya harga tas dan sepatunya) di seantero kota.
c)      Intensitas
Pada umumnya, rangsangan yang lebih sensitif mendapatkan lebih banyak taanggapan daripada rangsangan yang kurang intens. Iklan memanfaatkan faktor ini dengan baik, Contohnya, lampu yang lebih terang lebih diperhatikan orang daripada lampu yang redup pada malam hari. Iklan yang diperkuat dengan lampu-lampu yang lebih terang lebih menarik perhatian.
d)     Ukuran
Pada umumnya, benda-benda yang besar lebih menarik perhatian. Barang yang lebih besar lebih cepat dilihat. Banyak perusahan yang memanfaatkan faktor ini dalam mengemas prosuk mereka, sehingga membuat barang kelihatan lebih besar.. Demikian pula, iklan yang lebih besar sering dilihat daripada yang kecil.
e)      Kontras
Hal-hal lain dari yang biasa kita lihat akan cepat menarik perhatian. Jika orang biasa mendengar suara tertentu dan tiba-tiba ada perubahan dalam suara itu, hal itu akan menarik perhatian. Demikian pula, seorang pekerjaan pekerja yang sangat berlainan dari pekerja yang lain, akan menojol. Banayk orang secara sadar atau tidak melakukan hal-hal yang aneh untuk menarik perhatian. Perilaku yang luar biasa menarik perhatian karena prinsip-prinsip perbedaan itu.
f)       Gerakan
Hal-hal yang bergerak lebih menarik perhatian daripada hal-hal yang diam. Kebanyakan iklan yang diperlihatkan di malam hari menggunakan prinsip ini dengan menciptakan ilusi gerak melalui pengaturan berbagai lampu secara cerdik. Film-film iklan pendek seperti yang terlihat di bioskop dan televisi menggunakan prinsip itu.
g)      Ulangan
Pemasang iklan menggunakan faktor ini secara menguntungkan. Pada waktu tertentu, iklan yang sama dipertontonkan walaupun pada saat itu, barangnya mungkin tidak ada di pasar. Pengulangan seperti ini membuat orang ingat akan produk itu dan mereka lebih memerhatikannyadaripada produk lain yang tidak cukup sering muncul di media. 
h)      Keakraban
Hal-hal yang  akrab atau dikenal lebih menarik perhatian. Hali ini terutama jika hal tertentu tidak diharapkan dalam rangka tertentu. Misalnya, di negara asing yang tidak terdapat banyak orang dari bangsa kita, kita akan segera tertarik oleh bentuk wajah yang kita kenal jika kita melihat seseorang dari negara kita.


Ø  Proses Perubahan Sensasi-Persepsi

o   Stimulus
Stimulus dapat berupa suara, cahaya, sentuhan atau hal apapun yang dapat merangsang alat indera dan sistem syaraf untuk menghantarkannya ke reseptor yang ada di mata, mulut, hidung, kulit atau pun telinga. Sebenarnya yang biasa kita alami hanyalah persepsi, karena kita tidak peduli pada langkah-langkah sebelumnya. Langkah pertama dimulai dengan suatu stimulus/rangsangan, yang mana ada perubahan dari energi pada lingkungan, seperti gelombang cahaya, suara, tekanan mekanik atau pun kimia. Stimulus itu mengaktifkan reseptor yang ada pada mata, telinga, kulit, hidung, ataupun mulut. Contohnya, pada kasus seorang anak bernama Gabrielle, stimulus/rangsangan yang ada adalah gelombang cahaya yang mencerminkan tubuh dari seekor anjing.
o   Transductive – Penterjemahan Makna
Setelah memasuki mata dari Gabrielle, gelombang cahaya akan fokus pada retina, yang mana merupakan bagian yang paling sensitif mengenai cahaya. Gelombang cahaya itu terpikat oleh photoreceptors/retina, yang mana mengubah energi fisik menjadi sinyal elektrik yang dalam proses ini disebut Transduction. Sinyal elektrik tadi diubah menjadi impuls yang berjalan ke otak.  Alat indera tidak menghasilkan sensasi, melainkan perubahan sederhana energi menjadi sinyal elektrik.
o   Brain:  Primary Area
Impuls dari alat indera pergi menuju area utama otak yang berbeda-beda. Sebagai contoh, impuls dari telinga menuju lobus temporal, dari sentuhan menuju lobus pariental, dari mata menuju lobus oksipital. Saat impuls sampai pada area utama otak yaitu lobus oksipital, mereka akan berubah untuk petama kalinya menjadi sensasi. Bagaimanapun Gabrielle tidak akan melaporkan bahwa dirinya telah mengalami suatu sensasi. Bagaimana bisa anak berumur 7 tahun, persepsinya mengenai seekor anjing berubah dari “nice” menjadi “bad”? itu karena pengalamannya yang pernah digigit. Dilain hari Gabrielle kembali melihat seekor anjing, dia tidak mau melihat makhluk berkaki 4, dengan kuping, hidung dan bulu, jika ia melihatnya dia akan berpersepsi melihat “bad” doggie. Untuk mengerti bagaimana sensasi berubah menjadi persepsi, kita harus membagi proses persepsi menjadi sebuah rangkaian dari langkah-langkah khusus yang mana di kehidupan  nyata lebih kompleks dan interaktif.
o   Brain:  Association Area
Setiap indera mengirimkan impuls ke bagian utama otak yang berbeda dimana impuls tersebut akan diubah menjadi sensasi. Bagian-bagian itu merupakan bagian-bagian kecil yang masih belum berarti apa-apa, seperti bentuk, warna, dan susunan. Impuls sensasi adalah yang akan mengirimkan suatu kesatuan susunan yang tepat pada otak. Bagian yang menyusun impuls tersebut merubah bagian kecil yang belum berarti apa-apa menjadi gambar yang bermakna yang disebut persepsi, contohnya adalah menjadi gambar seekor anjing.
Pada perkara Gabrielle, impuls dari matanya akan diubah menjadi sensasi visual oleh area visual utama dan persepsi oleh area asosiasi visual. Bagaimanapun persepsi Gabrielle mengenai anjing akan berubah, menyimpang, dan berbelok karena berbagai kondisi psikologis/kejiwaan, emosional, dan faktor kebudayaan.
o   Personalized Perception
Masing-masing dari kita mempunyai bagian unik dari pengalaman, emosi dan memori yang secara otomatis mempengaruhi persepsi kita . Sebagai hasilnya, persepsi kita tidaklah sama tapi berubah, membias dan berbeda dari kenyataan. Sebagai contohnya, area visual dari otak Gabrielle secara otomatis memasang beribu-ribu sensasi menjadi pola-pola yang bermakna, dalam kasus ini adalah pola seekor anjing. Sekarang, bagaimanapun Gabrielle bukan hanya melihat sebuah anjing berwarna putih dan cokelat biasa karena area otak yang lain menambahkan pengalaman emosionalnya yang telah digigit anjing. Dengan begitu, Gabrielle merasa makhluk berwarna putih-cokelat berkaki empat itu adalah “bad dog”. Untuk alasan yang sama, bisa saja 2 orang melihat pada satu anjing yang sama namun mempunyai persepsi yang berbeda, seperti ngamnggap anjing yang dilihatnya adalah anjing yang lucu, anjing yang kuat, anjing yang galak dan berbahaya, anjing yang bau, ataupun anjing yang jinak dan bersahabat. Demikian, kita mempunyai persepsi tersendiri mengenai suatu objek, binatang, orang ataupun situasi tertentu di kehidupan sehari-hari.



Referensi:
Heru Basuki, A.M (2008). Psikologi Umum. Jakarta : Gunadarma.
Sarwono W Sarlito (2012). Pengantar Psikologi Umum. Jakarta : Rajawali Pers
Sobur, Alex (2011). Psikologi Umum. Bandung : Pustaka Setia
Plotnik Rod & Haig Kouyoumdjian (2013). Introduction to Psychology. USA: Wadsworth

Jumat, 07 November 2014

PASOLA Budaya dari Sumba, Nusa Tenggara Timur

Pasola Budaya dari Sumba, Nusa Tenggara Timur

Pasola merupakan tradisi atau budaya khas orang Sumba di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Pasola atau Pahola berasal dari kata hola atau sola artinya tongkat kayu semacam lembing yang tumpul untuk saling menyerang dari atas kuda yang dikendarai oleh dua kelompok lelaki dewasa. Setelah mendapat tambahan kata pa maka pasola atau pahola berarti permainan berkuda. Hola yang digunakan sebagai tongkat kayu berukuran panjang sekitar 1,5 meter.  Sumba memiliki kuda yang khas dinamakan sandelwood, merupakan salah satu jenis yang terbaik di Nusa Tenggara Timur. Pasola sebagai salah satu rangkaian kegiatan dalam kerangka upacara pertanian di Sumba yang dilaksanakan di wilayah Kodi, Gaura, Lamboya, dan Wanokaka. Pasola di Kodi, Gaura dan Lamboya berlangsung pada bulan Februari dan di Wanokaka pada bulan Maret setiap tahun. Pemain pasola yang terseleksi berasal dari dua paro masyarakat yakni masyarakat bagian atas (dete) dan bagian bawah (wawa).
Acara sebelum pasola dimulai adalah mencari cacing laut yang disebut nyale (eunice). Nyale adalah cacing laut yang hidup di dalam endapan pasir berlumpur di laut dangkal di pantai atau karang yang hanya timbul setahun sekali pada menjelang bulan purnama. Kemunculan nyale di akibatkan karena sinar bulan purnama dalam bulan Februari atau Maret yaitu untuk untuk proses perkawinan. Nyale yang muncul berpasangan dalam jumlah besar dianggap sebagai simbol kesuburan dan mempunyai kekuatan magis yang menyuburkan. Nyale juga dianggap simbol peragaan kembali menemukan gadis cantik yang hilang dilaut dalam perkelahian antar dua ksatria yang memperebutkannya. Nama gadis tersebut adalah Putri Mndalika dari kerajaan Tanjung Bitu (Tonjong Beru) di Lombok Selatan. Dua ksatria tersebut berebut sang putri sampai berperang. Putri bersedih memohon petunjuk dewa di pinggir laut. Namun terjadi kecelakaan pada sang putri, ia terbawa ganasnya ombak dan putri pun hilang ditelan laut. Kedua ksatria mencari sang putri namun yang muncul malah cacing-cacing berwarna hijau di laut. Dalam pesta adat pasola, nyale selalu diucapkan dalam syair: innu gading, maruahu haruna (ras gading dan isi beras) dan nama wealing ta leti wuaha louru, nama waling taha bali wuama gutu yang artinya makhluk yang berasal dari seberang laut dan seberang pulau.
Dalam pasola para pemuda yang terseleksi saling berhadapan dalam kelompok berkuda yang dihias warna-warni. Para penunggang kuda dengan pakaian tradisional dan hiasan warna-warni kuda yang ditunggangi mencerminkan kegagahan, keterampilan da keindahan berkuda. Proses melempar kayu (hola) untuk mengenai lawan dalam saling serang diawali lemparan pertama oleh rato.
Sejumlah aturan dan larangan dalam pasola antara lain:
·         Kuda pasola harus kuda jantan, yang dihiasi warna-warni.
·         Peserta pasola tidak boleh lelaki di bawah umur.
·         Peserta yang telah jatuh dilarang di lempar.
·         Pihak yang luka maupun mati tabu untuk melakukan pembalasan dan diterima dengan wajar.
·         Kayu yang di pakai ujungnya tidak boleh diruncingi.


Di Lamboya kegiatan pasola dilakukan setelah melalui proses kegiatan sebagai berikut:
a)      Pasola dilaksanakan pada hari ke 22 bulan nyale atau hari ke 7 sesudah bulan purnama.
b)      Pannu ana malang ta pada hari ketiga sesudah bulan purnama.
c)       Pannu Ubu pada hari ke empat sesudah bulan purnama.
d)      Pannu mata we kako mali pada hari ke enam.
e)      Acara pasola/pahalana.

Ada juga pantangan-pantangan yang harus dilakukan oleh para pemain pasola, yaitu:
·         Tidak boleh memakai baju berwarna merah
·         Tidak boleh memakai atau selimut warna merah
·         Tidak boleh memakai giring-giring
·         Tidak boleh membakar kapur sirih
·         Harus memagar dengan tali (loada) tempat merapu yang dianggap pamali
·         Tidak boleh menjual periuk tanah berwarna merah
·         Tidak boleh menangisi mayat
·         Tidak boleh membuat pesta
·         Tidak boleh membunyikan gong
·         Tidak boleh memancing dan menjala ikan di muara maupun di pinggir panati tempat nyale disambut
·         Rato tidak boleh di dekati
·         Tidak boleh melagukan lagu daerah waktu merencah sawah
·        Tidak boleh membuat keributan pada waktu malam hari maupun siang hari yang menggangu masyarakat umum
·         Tidak boleh menumbuk padi pada malam hari
·         Tidak boleh menyalakan api
·         Tidak boleh menenun amlam hari
·         Tidak boleh membakar ayam sebelum sampai waktunya
·       Tempat piring nasi yan digunakan pada upacara adat di Weiwuang tidak boleh dari plastik atau piring batu
·         Tempat sirih pinang harus terbuat dari bahan kayu tamiang
·         Dalam mengucap syair adat tidak boleh terputus-putus
·         Cara menhitung pasola tidak boleh berdasarkan kalender masehi
·         Tidak boleh melanggar halaman rumah pemali

Sementara ketika bermain dan beradu tangkas dengan lawan, sejumlah aturan harus pula dipatuhi semua pemain. Aturan-aturan tersebut terwujud dalam larangan sebagi berikut:
o   Para pemain tidak boleh menolak resiko apabila terjadi cidera dan menerima segala resiko dengan lapang dada
o    Orang yang bermain tidak boleh anak-anak
o   Pemain harus menggunakan kain adat, parang, paitodang (penangkis), menggunakan ikat pinggang dan tali dan ikat kepala (kapouta)
o    Kuda yang digunakan tidak boleh kuda betina dan harus diberi perhiasan dan potongan kain warna-warni
o         Tidak boleh menyerang lawan secara perorangan harus beregu
o         Musuh yang jatuh ke tanak tidak boleh dilempar kayu hola
o         Kayu hola tidak boleh diruncingkan
o         Kayu hola harus dilemparkan bukan dipukul
o       Padawaktu bertinju adat (pajura) tidak boleh menggunakan benda keras tetapi dengan dibalut rumput ilalang
Selain larangan atau pantangan yang harus dilakukan sebelum bertanding, ada juga larangan atau pantangan yang harus dilakukan setelah bertanding, yaitu:
·         Selama tiga hari sesudah pasola masyarakat tidak boleh melakukan kegiatan apapun sebelum rato membuat upacara adat
·         Tidak boleh mendendam musuh atau lawan dalam permainan pasola, tetapi sudah berdamai kembali sesduah pasola
·         Para pemain pasola harus membakar ayam sekembali dari medan pasola dan tidak boleh melakukan kegiatan apapun sebelum tiga hari.
·         Pakaian yang digunakan pada waktu upacara pasola pada hari ketiga harus dijemur atau dipanaskan di sinar matahari.
Melalui kegiatan pasola diharapkan musim panen dapat melimpah. Sebelum pelaksanaan pasola, rato melakukan pelemparan pertama hola. Masing-masing kelompok akan saling menyerang dengan melemparkan kayu hola dari masing-masing kuda dengan berlari dengan kudanya mengejar lawan. Dua kelompok pemain yang mengendarai kuda dengan membawa tongkat kayu harus tangkas melemparkannya ke pihak lawan. Apabila pemain terkena lemparan dan menimbulkan darah, darahnya dipercaya mempunyai kekuatan magis yang menyuburkan.
Kemudian setelah acara pasola selesai kemudian dilakukan makan bersama dari seluruh suku (kabisu) yang datang.



Sumber Informasi:
Judul Buku     :   PASOLA
Penulis           :   Drs. Munanjar Widyatmika
                           Prof. Dr. Hudiono
Editor              :  Semiarto A.Purwanto
Penerbit          :   Direktorat Sejarah dan Nilai Budaya
Gambar           :   Google