Sabtu, 15 Oktober 2016

Definisi, Dimensi Komunikasi, dan Peran Psikologi Manajemen Dalam Organisasi

                Nama     : Ajeng Septiana
                NPM      : 10514662
                Kelas      : 3PA01


·         Definisi Komunikasi
Komunikasi adalah proses penyampaian informasi, ide, sikap, dan gagasan dari seseorang kepada orang lain dengan tujuan tertentu yang dilakukan secara verbal maupun non-verbal. Disadari atau tidak dalam kehidupan sehari-hari perilaku kita tidak terlepas dari adanya komunikasi ini, baik dalam bentuk satu arah maupun dua arah, baik secara verbal maupun non-verbal. Dalam prosesnya terdapat pengiriman informasi dari seseorang yang menyampaikan informasi kepada orang lain yang merupakan target atau sasaran komunikasi. Hal tersebut dilakukan untuk tujuan-tujuan tertentu misalnya  untuk mempenngaruhi orang lain.

·         Dimensi-dimensi komunikasi :
1.       Dimensi Isi
Dimensi isi ini disandikan secara verbal dan menunjukkan muatan atau isi dari komunikasi yang berlangsung. Muatan atau isi dari komunikasi tersebut adalah apa yang dikatakan dan disampaikan, atau dengan kata lain dimensi isi ini merujuk pada isi pesan. Dalam berkomunikasi, biasanya hal pertama yang menjadi isi dalam perbincangan adalah hal mengenai diri kita sendiri.
2.       Dimensi Kebisingan
Dimensi kebisingan disini berarti berbagai hal yang mengganggu proses pengiriman informasi dalam berkomunikasi seperti tinggi rendahnya suara yaang terdengar dalam melakukan komunikasi.. Hal tersebut dapat kita temukan seperti saat terjadi gangguan udara pada kawat telepon dan membuat seseorang sulit untuk mendengar apa yang diinformasikan oleh lawan bicara, sehingga membuat orang tersebut tidak dapat memahami apa yang dikatakan lawan bicaranya.
3.       Dimensi Jaringan
Dimensi jaringan ini menjelaskan sejauh mana seseorang meluaskan jangkauan informasinya dalam melakukan komunikasi. Diantaranya ada komunikasi yang bergantung pada jaringan satelit. Dimensi jaringan ini disandikan secara nonverbal, menunjukkan dan mengisyaratkan bagaimana suatu proses komunikasi dan bagaimana seharusnya pesan tersebut disampaikan. Dimensi jaringan ini juga merujuk pada unsur-unsur lain seperti jenis saluran yang digunakan untuk menyampaikan pesan tersebut.
4.       Dimensi Arah
Dimensi arah dalam komunikasi ini memiliki dua jenis, yaitu komunikasi satu arah dan komunikasi dua arah. Komunikasi satu arah merupakan bentuk arah komunikasi dimana hanya terjadi pemberian informasi dari seseorang kepada lawan bicaranya tanpa ada pemberian informasi balik, sedangkan komunikasi dua arah merupakan komunikasi dimana seseorang memberikan informasi kepada lawan bicara dan lawan bicaranya juga memberikan informasi kepada orang tersebut, sehingga terdapat pertukaran informasi diantara keduanya.

·         Peran umum psikologi manajemen dalam organisasi
Sebagaimana yang kita ketahui bahwa psikologi manajemen adalah ilmu mengenai cara mengatur sumber daya yang ada untuk memenuhi kebutuhan organisasi atau perusahaan,  maka dengan begitu dapat kita katakan bahwa peran psikologi manajemen dalam organisasi adalah mengatur dan menjaga kualitas sumberdaya yang ada baik dalam hal motivasi, kinerja, kreativitas dll demi tercapainya suatu produktivitas karyawan yang berdampak positif bagi organisasi ataupun perusahaan.


Sumber / Referensi:
Suprapto, Tommy. (2009). Pengantar Teori dan Manajemen Komunikasi. Jakarta: PT. Buku Kita
Nawangsari, Sri. (1997). Komunikasi Bisnis. Jakarta: Universita Gunadarma
Zarkasi, Muslichah. (1978). Psikologi Manajemen. Jakarta: Erlangga

Selasa, 27 September 2016

SDM, Organisasi dan Kepemimpinan

         Mata Kuliah                       : Psikologi Manajemen
Nama                                 : Ajeng Septiana (10514662)
Kelas                                 : 3PA01

      SDM
Sumber Daya Manusia (SDM) adalah orang yang bekerja dalam suatu organisasi. Sumber Daya Manusia merupakan salah satu aset paling berharga dalam perusahaan, karena tanpa manusia maka sumber daya perusahaan tidak akan dapat mengahasilkan laba atau tujuan organisasi/perusahaan tidak akan bisa tercapai. SDM ini memiliki ciri khas yang berbeda dengan sumberdaya lain, yaitu sifat manusia yang unik dimana berbeda satu dengan yang lain, serta memiliki pola pikir yang baik, tidak seperti benda mati. Kekhusussan inilah yang menyebabkan perlu adanya perhatian spesifik terhadap sumberdaya ini. Mengelola manusia tidak semudah mengelola benda mati yang dapat diletakkan dan diatur sedemikian rupa sesuai kehendak pimpinan. Manusia perlu diperlakukan sebagai manusia seutuhnya dengan berbagai cara supaya masing-masing individu tersebut mau dan mampu melaksanakan pekerjaan, aturan dan perintah yang ada dalam organisasi tanpa menimbulkan dampak yang merugikan perusahaan maupun individu sebagai karyawan dalam perusahaan. Manajemen Sumber Daya Manusia berkaitan dengan cara pengelolaan sumber daya insani, dalam organisasi dan lingkungan yang mempengaruhinya, agar mampu memberikan kontribusi secara optimal bagi pencapaian organisasi. Menurut sayuti hasibuan (2000), pengelolaan sdm berarti penyiapan dan pelaksanan suatu rencana yang terkoordinasi untuk menjamin bahwa sdm yang ada dapat dimanfaaatkan dengan sebaik-baiknya untuk mencapai tujuan organisasi tersebut. Sedangkan Perekrutan sdm menurut hasibuan (2002) adalah usaha mencari dan mempengaruhi tenaga kerja agar mau melamar lowongan pekerjan yang ada dalam suatu perusahaan. Penyeleksian karyawan adalah proses menilai dan memilih karyawan yang qualified di antar calon-calon yang melamar. Kualifikasi seleksi SDM menurut hasibuan (2002) adalah sebagai berikut: Umur, Keahlian, Kesehatan fisik, Pendidikan, Jenis kelamin, Tampang, Bakat, Tempramen, Karakter, Pengalaman kerja, Kerja sama, Kejujuran, dan Kedisiplinan.
Hasibuan (2000) membagi komponen SDM menjadi:
1.       Pengusaha, Ialah setiap orang yang menginvestasikan modalnya untuk memperoleh pendapatan dan besarnya pendapatan itu tidak menentu tergantung pada laba yang dicapai perusahaan tersebut.
2.       Karyawan, Penjual jasa (pikiran ataupun tenaga) untuk mengerjakan pekerjaan yang diberikan dan berhak memperoleh kompenssasi yang telah ditetapkan terlebih dahulu (sesuai perjanjian). Posisi karyawan dalam suatu perusahaan dibedakan menjadi : Karyawan operasional, yaitu setiap orang yang secara langsung harus mengerjakan sendiri pekerjaannyasesuai dengan perintah atasan. Dan karyawan manjerial, ialah seseorang yang berhak memerintah bawahannya untuk mengerjakan sebagian pekerjaannya dan dikerjaka sesuai peerintah.
3.       Pemimpin, Ialah seseorang yang mempergunakan wewenang dan kepemimpinannnya untuk untuk mengarahkan orang lain serta bertanggung jawab atas pekerjaan orang tersebut dalam mencapai suatu tujuan.
·         Organisasi
Organisasi adalah kelompok orang atau dikatakan juga terdiri dari kelompok-kelompok tenaga kerja (dalam hal organisasi perusahaan) yang bekerja untuk mencapai tujuan organisasniya. Terdapat 3 dimensi dari organisasi, yaitu:
1.       Kemajemukan ( complexity ), dengan kemajemukan diartikan beragamnya kegiatan, fungsi, pekerjaan dan jumlah lapis dalam organisasi.
2.       Formalisasi ( formalization ), mengacu pada adanya kebijakan, prosedur, dan aturan yang membatasi pilihan dari para anggotanya. Para anggota / tenaga kerjanya diharapkan berperilaku sesuai dengan kebijakan, prosedur dan aturan yang berlaku.
3.       Pemusatan ( centralization), berkaitan dengan penyebaran daya (power) dan wewenang (authority). Pada centralization organizations, daya dana wewenang berada pada kedudukan paling tinggi dalam organisasi.
Ada 3 rancangan (design) organisasi yang umum yaitu:
-          Rancangan dengan struktur sederhana, ditandai oleh departementalization yang sedikit, span of control yang lebar, keweanangan di pegang terpusat pada satu orang, formalistas sedikit. Rancangan ini biasa ditemukan pada organisasi usaha yng kecil, dimana pemimpinnya adalah pemilik.
-          Birokrasi, adalah satu struktur dengan tugas-tugas yang beroperasi sangat rutin yang dicapai melalui spesialisasi.
-          Matriks, pada struktur matriks setiap bawahan memiliki 2 atasan. Struktur matriks dapat ditemukan dalam organisasi periklanan, perguruan tinggi, rumah sakit, perushaan konsultan ,manajemen dll. Kekuatan struktur ini adalah berkemampuan untk melancarkan  koordinasi jika organisasi memiliki kegiatan-kegiatan majemuk yang banyak dan saling bergantung. Sedangkan kelemahannya terletak pada kebingungan yang diciptakan, misalnya kepala bagian memerlukan tenaganya untuk proyek penelitian, namu pada saat yang sama ia perlu mengajar program stusi s1 dan S2.
Tosi, Rizzo, Carroll membeedakan 4 jenis generic organisasi, yaitu:
1)      Organisasi mekanistiik (OM), Organisasi ini dapat berfungsi baik dalam lingkungan yang baik teknologinya maupun pasarnya stabil, memiliki formalitas yang tinggi, kerja yang berulang-ulang, pembagian kerja yang ketat, tingkat keterampilan rendah, pekerjaan terusmuskan dengan jelas dan baik, saluran distribusi terpatok, pengambilan keputusan yang terpusat,, konflik antara eselon tinggi dan rendah.
2)      Orgnaisasi Organik (OO), Organisasi berfungsi baik dlam lingkungan yang baik teknologinya maupun pasarnya samar (volatile), formalitasnya rendah, kerja tidak rutin, batasan pekerja tidak ketat, memerlukan orang dengan keterampilan tinggi, struktur da tugas-tugas kerja yang lentur, konfik antar para profesional.
3)      Organisasi campuran dominasi teknologi, lingkungan yang pasarnya stabil tapi teknologinya samar baik untuk organisasi ini. Formalisasi di bidang pemasaran tinggi, namun di bidang teknologi rendah, staf sangat terampil, teknologi intensif dan tepatguna.
4)      Organisasi campuran dominasi pasar (OCDP), Organisasi ini dapat berfungsi dengan baik dalam lingkungan yang teknologinya stabil tapi pasarnya samar (volatile). Formalisasi dibidang teknologi tinggi, di bidang pemasaran rendah. Teknologi dengan jaringan panjang atau repetitf, saluran-saluran distribusi dipengaruhi oleh perubahan-perubahan ‘gaya’, lebih menjadi promoters daripada sales persons, pemasaran berpengaruh besar.
·         Kepemimpinan
Kepemimpinan berhubungan dengan efektivitas dan merupakan suatu yang penting bagi seorang manajer. Kepemimpinan merupakan pengertian yang meliputi segala macam situasi yang dinamis, yang berisi:
a.       Seorang manajer sebagai pemimpin yang mempunyai wewenang untuk memimpin.
b.      Bawahan yang dipimpin, yang membantu manajer sesuai dengan tugas mereka masing-masing.
c.       Tujuan atau sasaran yang harus dicapai oleh manajer bersama-sama dengan bawahannya.
Seorang manajer, menurut Drucker (1966) adalah seorang ‘pekerja berpengetahuan’. Dalam usahanya untuk mencapai sasaran-sasaran kelompok kerjanya manajer menggunakan sumber-sumber daya manusia dan sumber-sumber lainnya (dana, peralatan, mesin) yang tersedia baginya. Dalam menggunakan sumber-sumber daya inilah, terutama yang menyangkut bawahannya, manajer berfungsi sebagai pemimpin. Ia harus mampu mempengaruhi dan mengarahkan perilaku bawahan-bawahannya ke arah tercapainya sasaran-sasaram kelompok kerjanya.
# Ciri-ciri seorang pemimpin yang berhasil :
Efektivitas kepemimpinan dianggap ditentukan oleh kepribadian pemimpin. Pemimpin mempunyai kualitas yang baik dari pada pengikutnya. Ia mempunyai ciri-ciri yang tidak punyai pengikutya. Marat (1982) mengutip Carter, menemukan ciri-ciri perilaku pemimpin yang berhasil dari penelitian yang dilakukan pada Angkatan Darat Amerika Serikat, yaitu:
1.                 performing profesional and technical speciality
2.                 knowing subordinates and showing consideratio for them
3.                 Keeping channels of communication open.
4.                 Accepting personal responsibility and setting an axample
5.                 Imitating and directing action
6.                 Training men as a team
7.                 Makin decisions
Andreas Dananjaya (1985) menemukan adanya perbedaan dalam nilai operatif pada manajer yang berhasil dengan manajer yang kurang berhasil. Para manajer yang berhasil memiliki nilai-nilai operatif yang berhubungan dengan kondisi atau sumber daya yang dibutuhkan oleh suatu organisasi untuk mencapai keberhasilan dan nilai-nilai yang menunujukan pandangan jauh kedepan dan sikap yang selalu waspada. Sebaliknya mnajaer yang kurang berhasil memiliki nilai-nilai operatif yang berhubungan dengan prestise atau “gengsi” seseorang.
De Bono (1986) berdasarkan wawancaranya dengan 50 pria dan wanita yang snagat berhadsil dalam bidangnya masing-masing berkesimpuan bahwa ada 4 faktor yang menentukan keberhasilan seseorang dan sekelompok orang, yaitu :
•            Ciri pribadi
-          A little madness, orang yan tau jelas dan pasti apa yang ia inginkan dan memiliki dorongan yang sanhat kuat untuk mencapai tujuannya.
-          Very talented, mempunyai bakat yang sangat menonjol di bidang tertentu.
•            Faktor dari luar diri :
-          Rapid growth flied, orang memiliki kemampuan berkembang sangat cepat mempunyai peluang lebih banyak untuk berhasil.
-          Luck, ada orang yang berkebetulan berada di tempat pada saat yang tepat untuk melakukan usahanya. Ada orang lain yang selalu kesulitan dalam memulai usahanya.
Kajian lain yang dilakukan oleh majalan ‘SWA’ (Januari-Februari, 2000), majalah bisnis, bersama-sama dengan ‘asia market inteligence indonesia’ tentang ciri-ciri kepemimpinan dan ciri-ciri kepribadian dari para CEO yang berhasil, menemukan bahwa 3 ciri-ciri kepemimpinan yang paling disebut adalah :
1.       Memiliki visi
2.       Memiliki perhatian yang besar terhadap sumber daya manusia 
3.       Memiliki pengetahua situasi uang luas
Selain itu juga disebutkan ciri pridadi lain seperti jujur, berpendidikan, memiliki rasa sosial yang tinggi.
Telah ditemukan berbagai gaya kepemimpinan atau gaya manajemen dimana diduga salah satu dari gaya tersebut adalah yang paling efektif, namun terbukti bahwa tidak ada satu gaya pun yng efektif digunakan dalam segala situasi kepemimpinan/majenem. Setiap situasi menuntut adanya gaya kepemimpinan tertnetu.
1.       Teori “contingency”
Model kemepimpinan ini dikembangan oleh Fiedler (1967). Tinggi rendahnya prestasi kerja satu kelompok dipengaruhi oleh sistem motivasi dari pemimpinan dan sejauh mana pemimpinan dapat mengendalikan dan mempengaruhi suatu situasi tertentu. Untuk menilai sistem motivasi dari pemimpinan, pemimpin harus mengisi suatu skala sikap dalam bentuk skala semantic differential. Skor yang diperoleh menggambarkan jarak psikologis yang dirasakan oleh pemimpin antara dia sendiri dengan “rekan kerja yang paling disegani” / Least Prefferd Coworker (LPC). skor LPC yang tinggi menunjukan bahwa pemimpi  melihat rekan kerja yang paling tidak disenangi dalam suasa yang mnyenangkan. Dikatakan bahwa pemimpin dengan LPC tinggi berorientasi pada relatioshop oriented. Sebaliknya pemimpin dengan LPC rendah menunjukan derajat kesiapan pemimpin untuk menolak mereka dengan mana ia tidak dapat bekerja sama. Pemimpin demikian lebih berorientasi pada task oriented. Dalam meneliti kembali kajian-kajian kepemimpinan yang lampau dan menganalisis kajian-kajian kepemimpina  yang lampau dan menganalisis kajian-kajian yang baru Fiedler menemukan bahwa : Pemimpin dengan LPC rendah (task oriented) cenderung untuk berhasil paling baik dalam situasi kelompok baik yang menguntungkan maupu yang sangat tidak mneguntungkam. Pemimpin dengan skor LPC tinggi (hrelationship oriented) cenderung untu berhasil dengan baik dalam situasi kelompok yang sedang derajat keuntungannya. Kesimpulan Fiedler diatas lebih berlaku untuk kepemimpinan pada tingkat manajemen pertama.
2.       Teori Tiga Dimensi
Reddin (1970) mengembangkan teori ini dnegan menambahkan dimensi ketiga pada dimenso dari Oriesi-Tugas (OT) dan dimensi Orientasi-Hbbungan(OH). Dimensi ketiga merupakan dimensi efektifitas. Dengan menggunaaka OH sebagai sumbu tegak dan OT sebagi sumbu mendatar ia menemukan 4 gaya dasae dari perilai majerial, yaitu:
-          Separated: perilaku OT dan OH digunakan sedikit sekali
-          Related: perilaku OH yang terutama digunakan
-          Integrated: perilaku OH da OT banyak digunakan
-          Dedicated: perilaku OT dna OH yang teruatamadigunakan.
Keempat gaya majerial tersebut dapat efektif dalam situasi tertentu, dan dapat tidak efektif dalam situais lain. Dapat disimpulkan bahwa menurut teori tiga dimensi, seorang manajer  harus dapat menggunakan gaya manjerial sesuai dengan tuntutan situasi seseat. Supaya berhasil maka Reddin menyarankan agar para manajer dilatih dalam 3 keterampilan, yaitu : situasional sensitivity skill (keterampilan menganggap situasi), style flexibility skill (keterampilan melenturkan gaya), situational maagement skill (keterampilan memanejemeni situasi).
3.       Teori kepemimpinan situasional
Teori dikembangkan oleh Hersey dan Blanchard (1982), yang merupakan pengolahan dari model efektivitas pemimpin yang tiga dimensi, didasarkan oleh hubungan kurvalinear antara perilaku tugas dan perilaku hubngan serta kedewasaan. Teori ini berusaha untuk memberikan pemahaman kepada pemimpin tentaang kaitan antara gaya kepemimpinnan yang efektif fngan tingkat kedewwasaan dari para pengikutnya. Tingkat kedewasaan dari para bawahan menentukan gaya efektif dari pemimpin. Dimulai dengan perilaku tugas yang bersturktur yang sesuai dalam bekerja dengan bawahan yang belum dewasa, teori ini menyarankan bahwa perilki pemimpin harus bergerak melalui 1) tugas tinggi-hubungan rendah ke 2) tugas tinggi-hubungan tingi ke 3) tugas rendah-hubungan tinggi ke 4)tugas rendah-hubungan rendah.
4.       Teori model normatif
Teori merupakan salah satu teori ynag termasuk dalam teori contingency, dikembangkan oleh Vroom dan Yetton (1973). Model ini dinamanan normatif karena mengarah ke pemberian suatu rekomendasi tentang gaya kepemimpinan yang sebaiknya digunakan dalam situasi tertentu. Model ini dapat digunkan untuk:
-          Membantu mengenali berbagai jenis situasi pemecahan persoalan secara berkelompok.
-          Menyarankan gaya-gaya kepemimpinan mana yang dianggap layak untuk setiap situasi. Ada 3 perangkat parameter yang penting yaitu:
1)      Klasifikasi gaya kepemimpinan:
A-I : memecahkan persoalan atau mengambil keputusan sendiri dengan menggunakan informasi pada waktu yang ada
A-II : memperoleh informasi yang diperlukan dari bawahan, lalu memutuskan pemecahannya sendiri.
C-I : memberitahukan persoalan kepada beberapa bawahan yang relevan secara pribadi, memperleh gagasan dan saran mereka tanpa mengumpukan mereka dalam satu kelompok. Kemudia mengambil keputusan yang mengkin atau tidak mencerminkan pengaruh dari bawahan
C—II : memberitahukan persoalan kpada bawahan sebagai satu kelompok, memperoleh gagasan dan saran mereka secara kolektif. Kemudia anda mengambil keputusan yang mungkin atau tidal mencerminkan pengaruh dari bawahan.
G-II : memberitahukan persoalan kpada bawahan sebagai satu kelompok. Lalau bersama-sama mereka menghasilkan dan menilai berbagai alternatif pemecahan masalah dan berusah auntuk mencapaai kesetujuan mengenai satu pemecahan. Seperti ketua, peran gaya kepemimpinan ini tidak mencoba untuk mempengaruhi kelompok untuk menerikma pemecahan dan bersedia untuk menerima dan melaksanakan setiap pemecahan masalah yang didukdukng oleh seluruh bawahan.
2)      Kriteria kefektivitasan keputusan:
Kriteria mencangkup mutu keputusan, penerimaan keputusan oleh bawahan atau kesediaan mereka untuk melaksanaan keputusan dan jumlah waktu yang diperlukan untuk sampai pada pemecahannya.
3)      Kriteria penemukenalan jenis situasi pemecahan persoalan:
Kriteria ini disajikan sebagai suatu perangkat dari tujuh pertanyaan yang bertema pemecahan masalah.
Dalam proses interaksi yang terjadi antara pemimpin dan bawahan, berlangsung proses saling mempengaruhi dimana pemimpin berupaya mempengaruhi  bawahannya agar berperilaku sesuai dengan harapannya. Corak interaksi inilah yang menentukan derajat keberhasilan pemimpin dalam kepemimpinannya.
1.       Kepemimpinan Transaksional, Bentuk ini pemimpin berinteraksi dengan bawahan melalui proses transaksi. Bass dan Avolio (1994) membahas 4 macam transaksi, yaitu:
-          Contingent Reward, Jika bawahan melakukan pekerjaan untuk kepentingan perusahaan dan menguntungkan maka mereka dijanjikan imbalan yang setimpal, dan mereka dapat mengharapkan imbalan yang setimpal. Transaksinya ialah : “jika anda bekerja baik maka saya akan beri imbalan yang baik”
-          Management By Exception-Active, Manager aktif memantau pelaksanaan tugas karyawannya sehingga tidak akan melakukan kesalahan, atau pun kegagalan dalam melaksanakan tugas. Transaknya ialah : “silahkan melaksanakan tugas anda, saya akan awasi srcara ketat, sehingga jika saya melihat kemungkinan terjadi kesalahan saya akan seger membantu”
-          Management by Exception-Passive, Manajer baru akan bertindak setelah terjadi kesalahan, atau masalah yang benar-benar serius. Transaksinya ialah: “ silahkan melaksankan tugas, jika terjadi masalah, usahakan mengatasi masalah atau memperbaiki masalah tersebut sendiri. Saya akan membatu anda jika saya lihat anda tidak mampu mengatasi masalah tersebut.
-          Laissez-Faire, Manajer membiarkan bawahannya melakukan tugas pekerjaannya tanpa ada pengawasan dari diinya. Transaksinya ialah : “ silahkan anda melakukan tugas pekerjaan anda secara mandiri, anda mampu melakukannya dan harus bertanggung jawab sendir atas hasil kerja anda”
2.       Kepemimpinan Transformasioanl
Interaksi anatara pemimpin dan bawahannya ditandai oleh pengaruh pemimpin dalam mengubah perilaku pegikutnya menjadi seseorang yang merasa mampu dan bermotivasi tinggi dan berupaya mencapai prestasi kerja yang tinggi dan bermutu. Sehingga tujuan kelompok tersebut dapat dicapai bersama. 5 aspek kepemimpinan transformasional ialah:
-          Attributed Charisma, Pemimpin mendahulukan kepentingan perusahaan dan kepentingan orang lain dari kepentingan diri sendoro, bersedia mengorbankan untuk kepentingan perusahaan. Bawahan memiiki rasa bangga dan merasa tenang berada dekat pemimpinya. Pemimpinnanya juga dapat tenang menghadapi situasi kritikal dan yakin dapat berhasil mengatasinya.
-          Inspirational leadership / motivational, Pemimpin mampu menimbulkan inspirasi pada bawahannya. Bawahan merasa mampu melakukan tugasnya denga baik dan terinspirasi dari pemimpinnya.
-          Intellectual Stimulation, Bawahan merasa bahwa pimpinan mendorong mereka untuk memikirkan kembali cara kerja mereka, untuk mencari cara-cara baru dalam melaksanakan tugas.
-          Individualized consideration, Bawahan merasa diperhatikan dan diperlakukan secara khusus oleh pimpinannya. Pemimpin memperlakukan setiap bawhanya sebagai seorang pribadi dengan kecakapan, kebutuhan, keinginannya masing-masing.
-          Idealized influence, Pemimpin berusaha melalui pembicaraan, mempengaruhi bawahan dengan menekankan pentingnya nilai-nilai dan keyakinan, pentingnya keikatan pada keyakinan (beliefs). Pemimpin memperlihatkan kepercayaannya pada cita-citanya, keyakinannya dan nilai hidupnya.

KAITAN:
Berbicara mengenai SDM, Kepemimpinan dan Organisasi rasanya sangat amat berkaitan. Pengembangan SDM penting untuk dilakukan, karena bukan hanya dapat menghasilkan karyawan-karyawan dengan mutu dan kualitas kerja yang baik namun juga menghasilkan pemimpin yang efektif. Kepemimpinan yang efektif dapat mengubah organisasi menjadi semakin maju. Karena bagaimanapun suatu organisasi yang bersifat dinamis dan kompleks sangat memerlukan kecakapan kepemimipnan yang signifikan, bukan hanya memiliki pengetahuan, keterampilan dan kemampuan untuk beroperasi secara efektif tetapi juga memiliki kemampuan relasional untuk mitra dengan orang lain untuk mewujudkan visi dan tujuan organisasi tersebut. Faktor sumber daya manusia, faktor manajerial dan leadership merupakan faktor yang krusial dalam pengembangan organisasi. Rencana sebagus apapun dapat gagal dalam implementasi karena faktor manusia ini. Oleh karena itu, sumber daya manusia sangat memerlukan pengembangan demi kelangsungan suatu organisasi dan menjamin kualitas dari organisasi tersebut. Organisasi-organisasi dewasa ini terus berhadapan dengan perubahan, seperti perubahan lingkungan, konstelasi politik, hingga peraturan perundang-undangan. Dalam konteks Manajemen Sumber Daya Manusia (MSDM) maka seseorang yang bertanggung jawab dalam hal mutu SDM membutuhkan ketrampilan kepemimpinan dan manajemen. Dengan kata lain dibutuhkan adanya kepemimpinan dan manajer sebagai suatu kesatuan dalam organisasi. Dalam hal ini komitmen manajemen dalam melaksanakan MSDM adalah penting. Jadi dibutuhkan suatu elemen manajemen SDM yang disebut dengan kepemimpinan yang dibuktikan nyata dalam pelaksanaan program untuk mampu secara terampil membimbing organisasi menuju arah strategi baru. Seorang pemimpin harus mampu memikirkan usaha pengembangan SDM dalam organisasinya, karena hal tersebut akan berdampak sangat baik untuk karyawannya, dirinya, dan kemajuan organisasinya.

CONTOH:
Salah satu contoh kaitan yang baik antara organisasi, kepemimpinan dan SDM adalah kepemimpinan Wishnutama pada organisasi atau perusahaannya yaitu Netmediatama (biasa dikenal sebagai NET). Menurut saya Wishnutama memiliki ciri-ciri kepemimpinan yang baik seperti yang telah disebutkan sebelumnya, beliau juga terbukti membawa dampak yang baik bagi organisasi atau perusahaan yang dipimpin. NET memiliki progran-program dengan kualitas yang sangat baik, selain itu karyawan perusahaannya pun memiliki mutu dan kompetensi yang baik. Wishnutama pun tidak lupa memikirkan pengembangan SDM perusahaannya, terlihat dari postingan kegiatan MBT oleh para karyawan NET beberapa bulan yang lalu. Kegiatan tersebut dilakukan dengan tujuan meningkatkan kreativitas, inovasi dan kekompakan tim demi mencapai tujuan perusahaan.

Sumber / Referensi:
Munandar, S. Ashar. (2014). Psikologi Industri dan Organisasi. Jakarta: Universitas Indonesia
wsilfi.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files/.../1_Manajemen-SDM.pdf

Senin, 25 April 2016

Mental Retardation atau Intellectual Disabilities

Mata Kuliah                       : Kesehatan Mental
Nama Anggota Kelompok   : Ajeng Septiana (10514662)
                                             Elisa (13514497)
                                             M. Rusydan Mairubi (17514537)
                                             Vennysya Novianty (1A514989)
Kelas                                  : 2PA01


Mental Retardation atau Intellectual Disabilities adalah suatu kelainan di awal masa perkembangan dalam konteks intelektual maupun fungsi penyesuaian pada hal konseptual, sosial, maupun praktik nyata. Terdapat 3 kriteria / ciri khusus dari Mental Retardation, yaitu:
1.      Keterbatasan di bidang intelektual seperti: masalah pada reasoning, problem solving, planning, abstract thinking, judgment, academic learning, dan learning from experience yang telah dikonfirmasi keterbatasannya melalui proses pengukuran klinis dan tes intelegensi strandar.
2.      Keterbatasan pada fungsi penyesuaian diri yang berakibat pada kegagalan pemenuhan standar perkembangan sosial-budaya untuk memenuhi kebebasan pribadi (kemandirian) maupun tanggung jawab sosial. Tanpa adanya dukungan ataupun penanganan yang  berkelanjutan, keterbatasan penyesuaian ini akan membatasi keberfungsian dari satu bahkan beberapa hal dalam aktivitas sehari-hari, seperti: komunikasi, patisipasi sosial dan kemampuan hidup mandiri / bebas di lingkungan rumah, sekolah, tempat kerja maupun dalam komunitas.
3.      Awal mula keterbatasan intelektual dan penyesuian tersebut terjadi dalam masa perkembangan.
Berikut merupakan tingkat keparahan Mental Retardation / Intelektual Disabilities:
-          Mild / Ringan, bila nilai IQ berkisar 70-55/50. Pada umunya anak-anak dengan retardasi mental ringan tidak dikenali sampai anak tersebut menginjak tingkat pertama atau kedua di sekolah. Mulai tampak gejala pada usia sekolah dasar, misalnya sering tidak naik kelas, selalu memerlukan bantuan untuk mengerjakan pekerjaan rumah atau mengerjakan hal-hal yang berkaitan dengan kebutuhan pribadi. Bisa mencapai kemampuan membaca sampai kelas 4-6. Meskipun memiliki kesulitan membaca, tetapi mereka dapat mempelajari kemampuan pendidikan dasar yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. Mereka memerlukan pengawasan dan bimbingan serta pendidikan dan pelatihan khusus. Biasanya tidak ditemukan kelainan fisik, tetapi mereka bisa menderita epilepsi. Mereka seringkali tidak dewasa dan kapasitas perkembangan interaksi sosialnya kurang. Mengalami kesulitan dalam menyesuaikan diri dengan keadaan yang baru dan mungkin memiliki penilaian yang buruk dan jarang melakukan penyerangan yang serius, tetapi bisa melakukan kejahatan impulsif.
Domain Conceptual
Pada anak-anak prasekolah, mungkin tidak ada perbedaan konseptual yang jelas. Namun pada masa sekolah menuju dewasa, terdapat kesulitan dalam menerima pelajaran dan terdapat perbedaan kemampuan dengan rekan seumurannya. Pada masa dewasa, kemampuan berfikir abstrak, berfikir ter rencana, memori jangka pendek, atau segala yang mencakup kemampuan akademis mengalami gangguan.
Domain Social
Dibandingkan dengan teman seumurannya, kemampuan individu ini berinteraksi belum sempurna, sebagai contoh individu akan kesulitan memaknai apa yang rekannya lakukan (bermain, ngobrol, dll) individu akan sulit memaknai emosi dan perilaku apa yang rekan sejawatnya sampaikan.
Domain Practical
Dalam mengerjakan tugas harian yang kompleks, individu masih membutuhkan bantuan orang lain. di masa dewasa kebutuhan bantuan meliputi membeli keperluan makanan, transportasi, menjaga anak dan lingkungan rumah, memberi nutrisi yang baik untuk keperluan makan, perbankan dan menejemen keuangan

-          Moderate / Sedang, bila nilai IQ berkisar antara 55/50 – 40/35. Sudah tampak sejak anak masih kecil dengan adanya keterlambatan dalam perkembangan, misalnya perkembangan bicara atau perkembangan fisik lainnya. Anak hanya mampu dilatih untuk merawat dirinya sendiri. Pada umumnya tidak mampu menyelesaikan pendidikan dasarnya. Dengan latihan dan dukungan dari lingkungannya, mereka dapat hidup dengan tingkat kemandirian tertentu.
Domain Conceptual
Selama masa perkembangan, kemampuan konseptual individu mengalami ketertinggalan di banding rekan-rekannya. Asisten sangat di butuhkan untuk membantu individu tersebut menjalani seluruh aktivitas yang membutuhkan pola berpikir (conceptual meaning). Bahkan sang asisten dibutuhkan di sepanjang masa hidup individu tersebut
Domain Social
Kemampuan bersosialisasi dengan rekan seumurannya sangat dibatasi oleh kemampuan komunikasi yang sangat terbatas. Dibutuhkan bantuan komunikasi agar kemampuan bersosialiasi berjalan baik.
Domain Practical
Individu dapat melakukan keperluannya sehari- hari seperti makan, berganti pakaian, dan mandi seperti orang dewasa, tetapi dalam permasalahan keperluan yang kompleks individu masih sangat membutuhkan bantuan dari orang lain, harus selalu di ingatkan agar individu dapat mandiri dalam menjalani keperluan lain

-          Severe / Parah, bila nilai IQ berkisar antara 40/35 – 25/20. Sudah tampak sejak anak lahir, yaitu perkembangan motorik yang buruk dan kemampuan bicara yang sangat minim  namun dapat dilatih meskipun agak lebih susah dibandingkan dengan MR sedang. Hanya mampu untuk dilatih belajar bicara dan keterampilan untuk pemeliharaan tubuh dasar. Sudah tampak sejak anak lahir, biasanya tidak dapat belajar berjalan, berbicara atau memahami.
Domain Conceptual
Pencapaian konsep berfikir sangat terbatas, dibutuhkan pengasuh selama masa hidupnya untuk menjalani kegiatan sehari-hari.
Domain Social
Kata yang dapat diucapkan sangat terbatas, bahasa yang terucap saat berbicara hanya bisa satu kata. Interaksi yang di lakukan oleh keluarga atau orang terdekat sangat dibutuhkan untuk kebahagiaan individu.
Domain Practical
Dalam hal ini interaksi yang di lakukan oleh keluarga atau orang terdekat sangat dibutuhkan untuk kebahagiaan individu. individu membutuhkan bantuan dari seluruh kegiatan sehari-hari individu, membutuhkan arahan dari seluruh kegiatan yang di lakukan, individu tidak dapat bertaNggung jawab atas segala tidakannya

-          Profound / Mendalam, bila nilai IQ berada di bawah 25/20. Sudah tampak sejak anak lahir, biasanya tidak dapat belajar berjalan, berbicara atau kurang kemampuan memahami.
Domain Conceptual
Individu memiliki beberapa koordinasi otot & berbicara. Kemampuan merawat diri sangat terbatas.
Domain Social
Individu hanya dapat membaca pesan gestural yang ringan saja, kebanyakan cara komunikasi invidivu menggunakan pesan non verbal
Domain Practical
individu sangat membutuhkan pengasuh di setiap kegiatannya karena kemungkinan keterbatasan tidak dapat berjalan dan berbicara sangat tinggi
Ø  Fitur Diagnosa
Ciri khas pokok dari intellectual disabilities ini adalah keterbatasan dalam kemampuan mental umum (kriteria A), gangguan penyesuaian fungsi dalam kehidupan sehari-hari (kriteria B), dan bermula pada masa awal perkembangan (kriteria C). Diagnosa untuk intellectual disabilities ini didasarkan pada pengukuran klinis dan tes intelektual standar serta fungsi penyesuaian diri.
            Kriteria A menjurus pada fungsi intelektual yang menyangkut hal-hal sebagai berikut: reasoning, problem solving, planning, abstract thinking, judgment, learning from instruction and experience, dan practical understanding. Komponen-komponen pentingnya meliputi: verbal comprehension, working memory, perceptual reasoning, quantitative reasoning, abstract thought, dan cognitive efficacy.  
            Keterbatasan dalam fungsi penyesuaian (kriteria B) menjurus pada bagaimana baiknya seeorang memenuhi standar masyarakat pada hal kemandirian dan tanggungjawab sosial, dalam perbandingan dengan orang lain yang meemiliki umur sama dan latarbelakang sosial-budaya yang mirip. Keberfungsian penyesuaian meliputi penalaran adaptive dalam 3 domain, yaitu: konseptual, sosial, dan praktik. Domain konseptual / akademik meliputi kompentensi dalam hal memori, bahasa, membaca, menulis, penalaran matematika, akuisisi pengetahuan praktis, pemecahan masalah, dan penilaian dalam situasi di antara orang-orang. Domain sosial meliputi kesadaran tau perhatian atas pemikiran, perasaan dan pengalaman seperti empati, keterampilan komunikasi interpersonal, kemampuan berteman, penilaian sosial daiantara banyak orang. Sedangkan domain praktik meliputi pembelajaran dan managemen diri dalam kehidupan sehari-hari seperti perawatan diri, tanggung jawa kerja, managemen keuangan, rekreasi, managemen diri dalam hal perilaku dan pengorganisasian tugas dengan orang lain. Kapasitas intelektual, pendidikan, motivasi, sosialisasi, fitur diri, kesempatan kejuruan, pengalaman budaya yang berjalan bersamaan dengan kelainan mental berpengaruh pada fungsi penyesuaian diri.
            Keberfungian penyesuaian diri dapat diukur menggunakan evaluasi klinis dan individual, kesesuaian budaya, serta pengukuran psikometrik. Pengukuran standar digunakan dengan informan yang memiliki kedekatan dengan orang yang memiliki kelaian intelektual tersebut ataupun seseorang yang berpengetahuan (ex: orangtua, anggota keluarga, guru, konselor, maupun penyedia jasa pelayanan). Sumber lain bisa juga meliputi pendidikan, perkembangan, medis, dan evaluasi keksehatan mental. Skor dari pengukuran standar dan skor interview harus diinterpretasikan menggunakan penilaian klinis.
            Dukungan atau penanganan pada kriteria B sangat dibutuhkan dalam rangka memadai performa baik orang tersebut dalam suatu lingkungan seperti di rumah, sekolah, tempat kerja maupun komunitas.  Kriteria C bermula diawal masa perkembangan yang menjurus pada pengakuan bahwa keterbatasan intelektual dan penyesuaian diri terjadi saat masa kanak-kanak dan remaja.
Ø  Asosiasi Fitur Pendukung Diagnosis
Disabilitas intelektual adalah kondisi heterogen dengan beberapa penyebab. Terdapat kesulitan pada penilaian sosial;  risiko; perilaku, emosi, atau hubungan interpersonal; atau motivasi di sekolah atau lingkungan kerja. Kurangnya keterampilan komunikasi dapat mempengaruhi perilaku agresif. Penyandang disabilitas intelektual yang kurang dalam kesadaran akan resiko dan bahaya sering kali menjadi korban eksploitasi oleh orang lain dan memungkinkan menjadi korban penipuan, keterlibatan kriminal dan risiko kekerasan fisik dan seksual. individu dengan diagnosis disabilitas intelektual yang didasari gangguan mental beresiko untuk bunuh diri. Mereka berpikir tentang bunuh diri, melakukan upaya bunuh diri, dan kematian pada diri mereka. Dengan demikian, screening untuk pemikiran bunuh diri sangat penting dalam proses penilaian. Karena kurangnya kesadaran risiko dan bahaya, dapat meningkatkan angka kecelakaan dan kematian.
Ø  Pengembangan
Disabilitas intelektual  berkembang pada masa perkembangan. Usia dan karakteristik tergantung pada etiologi dan tingkat gangguan disfungsi otak. Motorik yang tertunda, bahasa, dan tonggak sosial dapat diidentifikasi pada 2 tahun pertama kehidupan  pada penyandang disabilitas intelektual yang lebih berat, sementara pada tingkat ringan mungkin tidak dapat diidentifikasi hingga usia sekolah, di saat kesulitan pada akademik muncul. Untuk anak-anak dan orang dewasa, dukungan sosial berpengaruh penuh dalam kehidupan sehari –hari sehingga dapat meningkatkan fungsi adaptif.
Ø  Risiko dan Faktor prognostik
Genetik dan fisiologis. Genetik misalnya urutan variasi atau salinan jumlah varian yang melibatkan satu atau lebih gen (gangguan kromosom), kesalahan metabolisme bawaan, kelainan otak, penyakit ibu (termasuk penyakit plasenta), dan pengaruh lingkungan (misalnya, alkohol, obat-obatan lain, racun, teratogen). Penyebab postnatal termasuk cedera iskemik hipoksia, trauma cedera otak, infeksi, gangguan demielinasi, gangguan kejang (misalnya, kejang infantil), sindrom metabolik berat dan deprivasi sosial kronis, dan intoksikasi (Misalnya, timbal, merkuri).
Ø  Isu Relasi Gender dan Diagnosis
Secara keseluruhan dalam melakukan diagnosis, pria lebih berpeluang dibandingkan perempuan (rata-rata Rasio perempuan laki-laki 1,6: 1) dan berat (rata-rata laki-laki: perempuan rasio 1,2: 1). Namun, pada beberapa penelitian rasio jenis kelamin ini bervariasi.
Ø  Perbedaan diagnosa
-          Gangguan Neurokognitif Besar dan Ringan.
Cacat intelektual dikategorikan sebagai gangguan perkembangan saraf dan berbeda dari gangguan neurokognitif, yang ditandai dengan hilangnya fungsi kognitif. Gangguan neurokognitif utama yang dapat terjadi dengan cacat intelektual (misalnya, seorang individu dengan down syndrome yang mengembangkan penyakit Alzheimer, atau individu dengan cacat intelektual yang kehilangan kapasitas kognitif lebih lanjut menyusul cedera di kepalanya). Dalam kasus tersebut, diagnosis cacat intelektual dan gangguan neurokognitif akan mungkin diberikan.
-          Gangguan Komunikasi dan Gangguan Belajar Tertentu.
Ini gangguan perkembangan saraf khusus untuk komunikasi dan pembelajaran domain dan tidak menunjukkan defisit dalam perilaku intelektual dan adaptif. Mereka mungkin terjadi dengan cacat intelektual. Kedua diagnosis dibuat jika kriteria terpenuhi untuk cacat intelektual dan gangguan komunikasi atau gangguan belajar tertentu.
-          Spektrum Gangguan Autisme.

Cacat intelektual adalah umum di antara individu dengan gangguan spektrum autisme. Penilaian yang tepat dari fungsi intelektual dalam gangguan spektrum autisme adalah penting, dan dengan penilaian ulang di periode perkembangan, karena nilai IQ dalam gangguan spektrum autisme mungkin tidak stabil, terutama pada anak usia dini.

Berikut ini ada beberapa link video  yang dapat menambah pengetahuan kitamengenai intellectual Disabilities :
  


Berikut ini ada sebuah film yang menceritakan kehidupan seorang ayah dengan Mental Retardation, yang berjudl "I am Sam". Film ini berkisah tentang bagaimana sulitnya menjadi seorang ayah (Sam)yang sempurna di mata orang lain, yaitu putrinya sendiri (Sam), teman-temannya dan yang utama adalah di mata petugas sosial negara tersebut (Los Angeles). Cukup sulit bagi Sam untuk meyakinkan petugas sosial bahwa ia ayah yang mampu mendidik dan membesarkan putrinya seperti anak lainnya. Hal ini dikarenakan Sam memiliki mental retardation (MR), sehingga mereka menganggap Sam tidak mampu mengasuh dan memberikan pendidikan yang layak kepada Lucy dengan intelejensi Sam yang hanya setara dengan anak usia tujuh tahun . Jika dilihat dari karakteristik yang dimiliki Sam, kemungkinan Sam berada dalam kategori cacat mental mild. Sebab dia sendiri sudah mampu merawat diri sendiri, sudah dapat dididik, secara fisik tidak memiliki perbedaan yang signifikan dengan orang normal, hanya saja dia memiliki kekurangan dalam koordinasi, kekuatan dan cara berbicara lambat dan kurang jelas. Keterbatasan – keterbatasan tersebut menyebabkan dalam kehidupan sehari – hari mereka bergantung pada orang lain, termasuk Sam. Dalam kasus ini, keterbatasan tersebut bukan hanya berpengaruh pada dirinya saja, melainkan juga banyak mempengaruhi kehidupan putrinya. Dengan intelejensi yang hanya setara dengan anak usia tujuh tahun tentu dianggap akan menghambat pendidikan putrinya. Sebab dapat dikatakan bahwa intelenjensi Sam akan berada di bawah intelejensi putrinya kelak. Selain itu, para petugas sosial juga menganggap bahwa Sam hanya mampu mempelajari hal tertentu saja. Hal ini terlihat pada saat di pengadilan, pihak petugas sosial mengatakan bahwa Sam tidak akan mengerti kebutuhan Lucy saat remaja nanti. Padahal, faktanya belajar dan berkembang dapat terjadi seumur hidup bagi semua orang. Maka, siapapun dapat mempelajari sesuatu, hanya saja bagi Sam proses pembelajaran tersebut jauh lebih lama dibanding orang normal. Dalam kasus ini, motivasi cukup berperan penting dalam setiap usaha belajar yang dilakukan oleh Sam. Dia tidak mudah learned helpless dalam menghadapi masalah yang dihadapinya, meskipun dia pernah mengalami putus asa tapi dia masih dapat bangkit kembali.Secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa retardasi yang diderita oleh Sam masih dapat dikategorikan dalam kelompok mild. Hal ini dapat kita lihat dari batasan kemampuan yang dimiliki Sam. Dia sudah mampu merawat diri sendiri dan juga tidak begitu bergantung pada orang lain. Selain itu, yang paling menonjol adalah kemampuan interaksi sosial Sam tidak begitu buruk. Dia memiliki hubungan yang baik dengan rekan kerja, putrinya, teman wanita dan juga memiliki aktivitas kelompok

Trailer Film I am Sam (2001): 

Daftar Pustaka:
American Psychiatric Association (2013). Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder. 5th Edition
https://junteq.wordpress.com/2010/03/09/film-i-am-sam-dari-kacamata-psikologi/
www.youtube.com

Minggu, 10 April 2016

Konsep Kepribadian, Kepribadian Sehat, dan Perembangan Kesehatan Mental Menurut Fromm

§  Perkembangan kesehatan mental menurut Fromm
      Karena hidup dengan keluarga yang neurotis dan mengalami peristiwa-peristiwa yang irasional seperti saat Perang Dunia I. Fromm akhirnya mengembangkan ilmu mengenai kodrat manusia dan perilaku yang irasional. Hingga akhirnya ia mengeluarkan teori bahwa kepribadian manusia dipengaruhi oleh kekuatan-keuatan sosial pada masa kanak-kanak dan kekuatan-kekuatan historis yang mempengaruhi perkembangan manusia. Untuk itu dalam mendalami kepribadian seseorang kita harus mengetahui kodratnya dari segi kekuatan sosial masa kanak-kanak dan kekuatan historisnya. Hingga akhirnya diagnosa mengenai kepribadian orang tersebut sehat atau tidak ditentukan oleh kebudayaan yang membantu atau malah menghambat perkembangan manusia yang positif tersebut. 

§  Yang dimaksud kepribadian sehat menurut Fromm
     Menurut Fromm kepribadian sehat adalah kepribadian yang produktif. Mereka memuaskan kebutuhan-kebutuhan psikologis secara kreatif dan produktif, sedangkan orang sakit  memuaskan kebutuhan-kebutuhan tersebut dengan cara irasional. Orang yang memiliki kepribadian sehat mencintai sepenuhnya, kreatif, memiliki kemampuan-kemampuan pikiran yang sangat berkembang, mengamati dunia dan diri secara objektif, memiliki identitas yang kuat, bebas dan menjadi pelaku diri sendiri. Dengan kata lain manusia yang sehat lebih mampu menemukan cara yang tepat untuk dapat menyesuaikan diri dan memmenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Menurut fromm ada 5 kebutuhan yang berasal dari aspek kebebasan dan keamanan, yaitu:
1.       Hubungan
2.       Transendensi
3.       Berakar
4.       Perasaan identitas
5.       Kerangka orientasi
Selain itu menurut Fromm kepribadian sehat memilik 4 segi tambahan, yaitu cinta yang produktif, pikiran yang produktif, kebahagian dan suara hati. 

§  Konsep kepribadian menurut Fromm
      Menurut Fromm untuk dapat mengerti kepribadian manusia kita harus memahami sejarah manusia itu terlebih dahulu. Manusia memiliki perbedaan dengan hewan dimana sudah tidak memiliki kesatuan dengan alam dan tidak memiliki insting, namun manusia memiliki kemampuan bernalar. Fromm melihat kepribadian sebagai bentuk kebudayaan, dan percaya bahwa kesehatan jiwa didefinisikan sebagai cara masyarakat menyesuaikan diri dengan  kebutuhan-kebutuhan individu

   Daftar Pustaka:
   Schultz, Duane. (1991). Psikologi Pertumbuhan. Yogyakarta: PT. Kanisius
   Feist, J & Feist, G. (2010). Teori Kepribadian. Jakarta: Salemba Humanika