Minggu, 14 Juni 2015

Potensi Belajar dan Berbahasa pada Anak

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak  mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Proses pembelajaran merupakan salah satu unsur penting untuk mencapai keberhasilan dalam pembelajaran. Ketika proses pembelajaran berlangsung, terjadi interaksi antara guru dengan siswa yang memungkinkan bagi guru untuk dapat mengenali karakteristik serta potensi yang dimiliki siswa. Demikian pula sebaliknya, pada saat pembelajaran siswa memiliki kesempatan untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya sehingga potensi tersebut dapat dioptimalkan. oleh karena itu, pendidikana bukan lagi memberikan stimulus akan tetapi usaha mengembangkan potensi yang dimiliki.
Untuk dapat mengenali dan mengembangkan potensi siswa tentunya dalam proses pembelajaran perlu pembelajaran yang bersifat aktif. Pembelajaran tidak lagi berpusat pada guru tetapi berpusat pada siswa dan guru hanya sebagai fasilitator serta pembimbing. Dengan demikian, siswa memiliki kesempatan yang luas untuk mengembangkan kemampuannya seperti mengemukakan pendapat, berpikir kritis, menyampaikan ide atau gagasan dan sebagainya.
Dalam hal ini guru perlu menerapkan pembelajaran 4 yang mampu meningkatkan motivasi belajar siswa sehingga diperoleh hasil belajar yang optimal. Motivasi merupakan salah satu hal penting dalam proses pembelajaran. Siswa yang memiliki motivasi tinggi tentunya akan bersemangat dalam pembelajaran dan sungguh-sungguh dalam belajarnya.
Anak yang mengalami perkembangan bahasa dengan sendirinya juga mengalami perkembangan potensi belajar lain. Hal tersebut dikarenakan perkembangan bahasa dapat dilihat dari sejauh mana tingkat perkembangan intelegensi, emosi, fantasi dan perkembangan lainnya.
Pada hakikatnya, anak manusia, ketika dilahirkan telah dibekali dengan bermacam-macam potensi yakni kemungkinan-kemungkinan untuk berkembang yang belum merupakan kenyataan yang terpola untuk menghadapi lingkungannya.
Potensi bahasa merupakan salah satu potensi yang harus dikembangkan pada anak prasekolah karena dengan kemampuan berbahasa yang baik, anak tidak saja dapat berkembang dalam bidang akademik tetapi anak mampu pula berinteraksi secara baik dalam lingkungan sosialnya.
Membantu proses perkembangan bahasa pada anak prasekolah perlu diawali dengan pemahaman kita tentang dunia anak, kemampuan-kemampuan bahasa anak, faktor-faktor yang mungkin dapat mempengaruhi proses perkembangan bahasa anak, dan sebagainya. Salah satu usaha yang dapat dilakukan adalah melalui proses pendidikan baik di rumah maupun di sekolah.

1.1  Rumusan Masalah
Berdasarkan topik dan latar belakang  tentang “Potensi Belajar dan Berbahasa Anak”, maka dapat dirumuskan ha-hal sebagai berikut:
1)      Apa yang dimaksud dengan Potensi?
2)      Apa saja jenis-jenis potensi belajar?
3)      Langkah apa saja yang harus dilakukan orangtua untuk mengembangkan potensi anak-anaknya?
4)      Apa saja tujuan pendidikan?
5)      Bagaimana perkembangan berbahasa pada anak?
6)      Apa fungsi perkembangan berbahasa pada anak?
7)      Bagaimana cara atau metode mengajar agar kemampuan berbahasa anak dapat terus meningkat?

1.2  Tujuan Penulisan
Sehubungan dengan masalah di atas, tujuan penulisan makalah dengan judul “Potensi Belajar dan Berbahasa pada Anak” adalah:
1)      Ingin mengetahui arti dari potensi.
2)      Ingin mengetahui jenis-jenis potensi belajar.
3)      Ingin mengetahui langkah yang harus dilakukan orang tua untuk mengembangkan potensi anaknya.
4)      Ingin mengetahui tujuan pendidikan.
5)      Ingin mengetahui perkembangan berbahasa pada anak.
6)      Ingin mengetahui fungsi perkembangan pada anak.
7)      Ingin mengetahui cara atau metode untuk mengembangkan potensi berbahasa pada anak.







BAB II
PEMBAHASAN
Potensi Belajar dan Berbahasa Anak
2.1           Pengertian Potensi
  Sejak dilahirkan setiap individu telah diberikan bekal luar biasa oleh Tuhan berupa kemampuan yang biasa disebut insting. Selain bekal kemampuan berupa insting, individu juga mendapat bekal beupa bibit, benih, atau biasa disebut potensi yang memiliki kemungkinan besar untuk dapat berkembang. Potensi disebut juga dengan istilah pembawaan. Jadi yang dimaksud dengan anak atau siswa yang berpembawaan adalah siswa yang memiliki potensi dengan kemampuan berkembang yang baik, sehingga dapat diharapkan bisa mendapat hasil yang memuaskan dalam pencapaian tujuan pendidikan.
Menurut Ngalim Purwanto (1984:18) mengatakan potensi adalah seluruh kemungkinan atau kesanggupan-kesanggupan yang terdapat pada suatu individu dan selama masa perkembangannya benar-benar dapat diwujudkan. Potensi belajar yang ada dalam diri seorang anak tidak sama dnegan potensi yang dimiliki orang lain. Hal tersebut sesuai dengan apa yang dikatakan Agus Soejono (1980:36) mengatakan bahwa potensi seseorang tidak sama dengan potensi yang dimiliki orang lainn. Seseorang bisa saja lebih tajam pikirannya, atau lebih halus perasaannya, atau lebih kuat kemampuannya atau lebih tegap daripada yang lain. Dengan begitu jelaslah bahwa potensi itu bersifat beraneka ragam, berbeda serta bervariasi. Potensi seseorang berbeda dengan orang lain dalam jenis dan tinggi rendahnya.

2.2           Jenis-jenis potensi belajar yang terdapat dalam diri anak atau siswa
  Terdapat lima potensi yang harus dikembangkan dalam mendidik anak, yaitu: potensi jasmani, potensi spiritual, potensi akal, potensi perasaan, potensi sosial.
1.    Potensi Jasmaniah
Potensi jasmaniah merupakan jasmani yang sehat dengan panca idera yang normal yang secara fiisologi bkerja sama dengan sitem syaraf dan kejiwaan. Potensi ini memerlukan gizi dan berbagai vitamin termasuk udara yang bersih dan lingkungan yang sehat. Jika sebagian kebutuhan ini tidak dapat tercukupi, maka tubuh orang tersebut akan lemah bahkan berpotensi menimbulkan penyakit.
2.    Potensi Rohaniah
Potensi ini meliputi segi pikir, rasa, karsa, karya maupun budi luhur nurani. Potensi rohaniah ini membutuhkan kesadaran cinta kasih, kesadaran keagamaan, dan nilai-nilai budaya supaya kepribadian kita sehat dan sejahtera. Selain itu rohani kita juga harus tenang, sabar, optimis, mempercayai orang lain, bahkan mencintai sesama manusia, tidak iir hati, tidak menyimpan rasa benci atau dendam dan sebagainya. Pembagian potensi tersebut didasarkan kepada U. Noorsyan (1980 : 131) yang membagi potensi menjadi sebagai berikut:
1.         Potensi jasmaniah; phisik, badan, dan panca indra yang sehat (normal).
2.         Potensi piker (akal, rasio, intelegensi, intelektual).
3.         Potensi rasa (perasaan, emosi) baik perasaan eti-moral maupun perasaan estetis.
4.         Potensi karsa (kehendak, kemauan, keinginan, hasrat atau kecenderungan-  
kecenderungan nafsu, termasuk prakarsa).
5.         Potensi cipta (daya cipta, kreativitas, fantasi, khayal dan imajinasi).
6.         Potensi karya (kemampuan menghasilkan kerja).
7.         Potensi budi nurani (kesadaran budi, hati nurani, kata hati).
Ketujuh potensi diatas dapat dikelompokkan kepada potensi jasmaniah dan potensi rohaniah yang dapat dikembangkan wujud manusia seutuhnya dalam rangka mencapai tujuan pendidikan yang dicita-citakan.

2.3           Menggali dan Mengembangkan Potensi Anak
 Menyediakan alternatif sarana bermain lain yang kebih edukatif, misalnya dengan menambah koleksi buku dan alat menggambar adalah salah satu cara yang bisa dilakukan untuk mengembangkan potensi anak. Berikut ini merupakan 9 langkah yang harus orang tua lakukan sebagai pengembang utama potensi yang ada dalam diri anak-anaknya:
1.      Syukuri anak sebagai karunia terbesar.
2.      Buatlah dia merasa dicintai, disayangi dan dikasihi.
3.      Bangkitkan minat dan motivasi belajarnya.
4.      Pahami dan hargai setiap anak sebagai individu yang baik.
5.      Beri kesempatan untuk memilih dan membuat keputusan.
6.      Doronglah anak untuk mencari informasi di luar rumah.
7.      Jangan matikan harapan dan cita-cita anak.
8.      Tunjukan penghargaan dan penghormatan kepada usahanya walaupun tampak sepele.
9.      Jalin hubungan yang kondusif antara orang tua, sekolah dan lingkungannya.
Setiap anak adalah unik karena perilaku anak memang khas dan dapat melakukan hal-hal yang tidak terduga. Setiap anak memiliki karakter tersendiri. Oleh karena itu, setiap orang tua harus memahami sehingga orang tua akan sadar terhadap keunikan anaknya tersebut. Untuk dapat mengembangkan potensi pada anak, orang tua harus pandai membangkitkan motivasi dan minat anak pada kegiatan dan belajarnya. Dengan anak semakain termotivasi maka anak akan menyadari bahwa ia bisa mengembangkan kemampuannya. Berilah kesempatan anak untuk berani memilih dan membuat setiap keputusan sendiri dalam melakukan setiap kegiatan atau belajarnya. Berilah keleluasan anak untuk berani memilih diantara pilihan. Orang tua bisa membantu bagaimana pilihan yang baik itu sehingga anak tidak terjebak pada hal-hal negatif. Informasi sangat penting untuk menunjang kemampuan kita. Untuk itu doronglah anak untuk aktif mencari kebutuhan informasi yang dapat menunjang potensinya. Hal tersebut bisa dimulai dengan informasi tokoh-tokoh yang sukses pada bidangnya atau bagaimana upaya agar dapat menjadi sukses seperti itu. Harga setiap pilihan cita-cita anak. Orang tua jangan terlalu memaksakan pilihannya sehingga anak akan merasa tidak bersemangat lagi untuk meraih harapan dan cita-citanya. Jangan sampai orang tua malah mematikan harapan anak dan mencela setiiap pilihan anak. Hargai dan berilah penghormatan untuk apa yang telah anak kerjakan walau hanya sekecil mungkin. Sehingga anak akan merasa tersanjung dan merasa dihargai kerja kerasnya. Sukses tidaknya potensi anak juga bergantung pada kondisi sekitarnya, baik dirumah, sekolah ataupun lingkungan lainnya. Maka dari itu jalinlah hubungan yang harmonis dan membangun sehingga semuanya bisa selaras untuk bersama-sama mewadahi potensi anak agar berkembang dan terus meningkat.

2.4           Pengaruh Perkembangan Potensi Anak Terhadap Pencapaian Tujuan Pendidikan
Masing-masing anak memiliki potensi yang berbeda-beda baik dalam kualitas atau dalam bidang dari potensi-potensi itu sendiri. Namun potensi-potensi tersebut memberi kemungkunan besar kepada para anak atau siswa untuk dapat berkembang menjadi sesuatu. Ada yang memiliki kemampuan untuk mengembangkannya dan ada juga yang kurang mampu mengembangkan potensinya kemampuan mengembangkan potensi ini beraitan dengan kemampuan belajarnya. Anak atau siswa yang memiliki kemampuan lebih untuk bisa mengembagkan potensinya akan lebih mudah dan lebih cepat belajar daripada siswa mempunyai kemampuan mengembangkan potensi yang kurang.
Potensi belajar yang ada dalam diri anak dapat berkembang untuk mencapai tujuan pendidikan jika terdapat kesempatan dan perangsang. Jika seseorang berpotensi baik dan ditunjang dengan adanya pengaruh yang memberikan dorongan yang cukup dan kesempatan yang besar maka potensi itu akan berkembang hingga tingkat optimal untuk mencapai tujuan pendidikan, yaitu diantaranya:
1.      Perkembangan Motorik
Perkembangan motorik adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan gerakan-gerakan. Perkembangan motorik inilah yang memberikan kemungkinan bagi siswa untuk dapat mengembangkan potensi yang ada pada dirinya. Menurut Agu Sujanto (1984:76) orangtua / guru dan para pemimpin dapat membantu anak atau siwanya dengan cara:
-          Melatih melakukan kewajiban-kewajiban yang sesuai dengan keadaan jasmani dan rohani.
-          Melatih melakukan peraturan-peraturan keluarga/sekolah.
-          Melatih dan menyertakan gerakan-gerakan yang benar dan baik, dengan cara olah raga, menari dan berbagai permainan lain.
2.      Perkembangan Intelegensi
Pada awal masa sekolah tingkat berfikir anak atau siswa masih bersifat konkrit. Artinya masih erat hubungannya dengan benda ataupun hal-hal yang nyata. Lama-kelamaan kemampuan berfikir siswa akan mengalami perkembangan yang pesat dengan ciri-ciri sikap kritis, realis dan logis. Maka tugas pokok dari pendidikan dasar (masa sekolah) harus memberikan dasar yang kokoh dalam hal membaca, menulis dan berhitung. Karena ketiga kemampuan ini merupakan dasar bagi segala macam ilmu yang akan diterima dan dialami siswa kelak dalam rangka perkembangan berfikirnya.
3.      Perkembangan Emosi
Pada awalnya anak atau siswa hanya mengalami senang atau sedih, semakin lama perasaan itu dikembangkan menjadi perasaan-perasaan lain seperti menyesal, kasihan/iba, marah, jengkel, simpati, bersalah dan sebagainya. Hal tersebut disebabkan oleh pengalaman yang makin bervariasi dalam bertingkah laku. Hal itu berguna untuk menerima pelajaran sekolah karena akan memudahkan bahan pengetahuan yang diberikan oleh gurunya.
4.      Perkembangan Karsa
Perkembangan karsa atau perkembangan kemauan / keinginan ini biasanya berkaitan erat dengan suatu kebutuhan dari anak atau siswa itu sendiri. Terkadang keinginan anak atau siswa demikian mendesak menurut pemenuhan. Untuk mengetahui kebutuhannya, maka anak atau siswa akan lebih rajin belajar/bekerja, ulet dan tabah menghadapi segla tantangan.
5.      Perkembangan Fantasi
Fantasi berkembang pada usia kurang lebih tiga tahun, dan mengalami perkembangan yang pesat pada masa kanak-kanak. Pada masa itu anak-anak akan gemar bermain permainan-permainan fantasi dan gemar sekali cerita-cerita hayalan.
6.      Perkembangan Kesusilaan/Agama
Penanaman norma-norma kesusilaan dan agama merupakan masalah yang abstrak, sedangkan siswa hidup dalam tingkat berfikir konkrit di dalam kehidupan logikanya dan realitanya. Mereka tidak dapat menerima sesuatu di luar pikirannya, ia akan selalu meminta bukti konkrit untuk mendapatkan kebenaran atas informasi yang baru ia dapat. Serta kebenran itu harus dapat didapatnya dengan alat indera seperti mata, telinga, alat peraba Tupun pengecapnya. Karena masalahnya yang abstrak maka penanama kesusilaan dan kehendak menghendaki untuk memberikan contoh yang konkrit daripada memerintah, mengharuskan, memaksa dan sebagainya.
7.      Perkembangan Bahasa
Perkembangan bahasa tidak dialami sama cepatnya pada masing-masing anak atau siswa. Ada yang cepat kemajuannya, ada juga yang lambat perkembangannya. Untuk mencapai kesanggupan berbahasa ini harus melalui latihan-latihan, kesempatan yang cukup serta taraf-taraf tertentu. Pada masa sekolah, kehidupan sosial  siswa akan terus bertambah luas, ia akan menyadari bahwa bahasa merupakan alat yang penting untuk kesatuan kelompok, dengan menyadari hal tersebut menyebabkan motivasinya menjadi lebih besar untuk belajar berbahasa lebih baik lagi. Jadi anak yang mengalami perkembangan bahasa dengan sendirinya juga mengalami perkembangan potensi belajar lain. Hal tersebut dikarenakan perkembangan bahasa dapat dilihat dari sejauh mana tingkat perkembangan intelegensi, emosi, fantasi dan perkembangan lainnya.

2.5           Perkembangan Bahasa
Bahasa merupakan salah satu komponen utama dalam berfikir. Hampir tidak mungkin manusia berfikir tanpa menggunakan bahasa, dan melalui bahasa, pikiran manusia dapat ditamilkan. Bahasa juga dapat membedakan manusia dari makhluk lainnya. Menurut Piaget salah satu ahli psikologi kognitif, bahasa adalah salah satu cara yang utama untuk mengekspresika pikiran, dan dalam seluruh perkembangan, pikiran selalu mengdahului bahasa. Bahasa meruapakan salah satu dari perangkat sistem kognitif manusia. Ia juga menekanan bahwa anak adalah makhluk yang aktif dan adaptif namun bersifat egosentris yang proses berfikirnya sangat berbeda dengan orang deawasa, maka pengalamn belajar harus disesuaikan dengan pengalaman mereka. Sedangkan Vigotsky berpendapat bahwa perkembangan bahasa seiring dengan perkembangan kognitif, bahkan saling melengkapi, keduanya berkembang dalam satu lingkup sosial. Vygotsky mengungkapkan bahwa bahasa dalam bentuk yang paling awalpun memiliki dasar sosial.
Sebagai alat komunikasi bahasa merupakan sarana yang sangat penting dalam kehidupan anak. Disamping itu bahasa juga merupakan alat untuk menyatakan pikiran dan perasaan kepada orang lain yang sekaligus berfungsi untuk memahami pikiran dan persaan orang lain. Selain itu bahasa juga merupakan pintu gerbang ilmu pengethauan, dengan berbahasa anak dapat berkomunikasi dengan sesama. Anak adalah makhluk peniru (imitator), ia mencontoh orang lain disepanjang kehidupannya. Kemampuan imitasi menjadi modal penting dalam perkembangan bahasanya. Anak senang meniru bunyi-bunyi tertentu ataupun ucapan-ucapan orang-orang disekitarnya.

2.6           Penggunaan Kata, Kalimat dan Tata Bahasa
Sejak usia 2 tahun anak banyak mendengar kata-kata atau sudah memliki kosakata yang luas. Gangguan pendengaran menyebabkan kemampuan anak untuk mencocokan suara dengan huruf menjadi terlambat. Bahasa anak menjadi bahasa orang dewasa setelah anak mencapai usia 3 tahun. Pada saat itu ia sudah mengetahui perbedaan antara saya, kamu dan kita. Pada usia 4-6 tahun kemampuan bahasa akan berkembang sejalan dengan rasa ingin tahu serta rasa antusias yang tinggi, sehingga timbul pertanyaan-pertanyaan dari anak dengan kemampuan bahasanya. Kemampuan berbahasa juga akan terus berkembang sesuai dengan intensitas anak pada teman sebayanya. Hal ini mengimpikasikan perlunya anak untuk memiliki kesempatan yang luas dalam menentukan sosialisasi dengan teman-temannya. Anak senang belajar menulis namanya sendiri atau kata-kata yang berhubungan dengan sesuatu yang bermakna baginya.
Antara usia 4-5 tahun kalimat anak sudah terdiir dari empat atau lima kata. Mereka juga mampu menggunakan kata depan seperti di bawah, di atas, di dalam dan di samping. Antara 5 sampai 6 tahun kalimat anak sudaj terdiri dari enam sampai delapan kata. Mereka juga sudah dapat mengetahui lawan kata. Mereka juga dapat menggunakan kata penghubung, kata depan dan kata sandang. Pada masa akhir usia prasekolah anak umumnya sudah mampu berkata-kata sederhana dan berbahasa sederhana, cara bicara mereka telah lancar, dapat dimengerti dan cukup mengikuti tatabahasa walaupun masih kerap melakukan kesalahan bahasa.

2.7           Berbicara untuk Berkomunikasi
Jika anak telah menguasai kata-kata, kalimat dan tata bahasa, mereka juga akan dapat berkomunikasi dengan baik dan lebih efektif. Salah satu fungsi berbicara adalah untuk mengobrol (social speech). Mengobrol adalah salah satu ekspresi kebutuhan akan orang lain dan dipergunakan untuk mngadakan dan mempertahankan komunikasi bersama mereka. Pada anak-anak usia prasekolah , jika mereka tidak mau berkomunikasi bukan selalu berarti mereka tidak mampu berbicara tetapi lebih banyak karena mereka tidak mau.

2.8           Pengembangan Bahasa di Taman Kanak-kanak
Bahasa merupakan salah satu program kegiatan belajar di Taman kanak-kanak dalam rangka pengembangan kemampuan dasar yang bertujuan agar anak didik mampu berkomnuikasi secara lisan dengan lingkungan. Dalam pelaksanaannya, pembelajaran untuk pengembangan aspek bahasa  tidak dapat berdiri sendiri, melainkan berhubungan dengan aspek lain, karen apembelajaran di TK adalah pembelajaran terpadu, yang artinya semua saling terkait dan saling mendukung.
Pengembangan kemampuan berbahasa di Taman Kanak-Kanak bertujuan agar anak didik mampu berkomunikasi secara lisan dengan lingkungan. Fungsi pengembangan kemampuan berbahasa bagi anak Taman Kanak-Kanak antara lain:
a. Sebagai alat untuk berkomunikasi dengan lingkungan
b. Sebagai alat untuk mengembangkan kemampuan intelektual anak
c. Sebagai alat untuk mengembangkan ekspresi anak
d. Sebagai alat untuk menyatakan perasaan dan buah pikiran kepada orang lain.
Sesuai dengan tujuan yang diharapkan maka pengembangan kemampuan berbahasa disusun sedemikian rupa sehingga dapat memenuhi kebutuhan anak. Adapun ruang lingkup pengembangan kemampuan berbahasa adalah:
-          Menirukan kembali urutan kata, urutan angka (latihan pendengaran)
-          Mengikuti beberapa perintah sekaligus
-    Menggunakan dan dapat menjawab pertanyaan apa, mengapa, dimana, berapa, bagaimana dan sebagainya
-          Menyanyikan beberapa lagu anak
-          Mengucapkan beberapa sajak sederhana
-          Mengenal kata-kata yang menunjukkan posisi
-  Menunjuk, menyebut dan memperagakan gerakan-gerakan yang sederhana, misalnya duduk, jongkok, berlari, makan, menangis.
-          Bercerita tentang kejadian disekitarnya secara sederhana
-          Menjawab pertanyaan tentang cerita pendek yang sudah diceritakan
-          Menceritakan kembali isi cerita sederhana yang sudah diceritakan guru
-          Memberi keterangan / informasi tentang sesuatu hal
-          Memberi batasan beberapa kata/benda
-          Mengurutkan dan menceritakan isi gambar seri
-          Melengkapi kalimat sederhana yang sudah dimulai oleh guru
-          Melanjutkan cerita/sajak yang sudah dimulai guru
-  Menyebutkan sebanyak-banyaknya nama benda, binatang, tanaman yang  mempunyai warna, bentu, atau menurut ciri-ciri tertentu
-          Menyebutkan sebanyak-banyaknya kegunaan dari suatu benda
-          Membayangkan akibat dari suatu kejadian yang belum tentu terjadi
-          Menceritakan gambar yang telah disediakan
-          Bercerita tentang gambar yang dibuat sendiri
-          Mengekspresikan diri melalui dramatisasi
-          Mengucapkan suku kata dalam nyanyian
-          Mengenal suara huruf awal dari kata yang berarti
-          Mengenal bunyi huruf akhir dari kata-kata yang berarti
-     Membuat sebanyak-banyaknya kata dari suku kata awal yang disediakan dalam bentuk lisan
-          Mengenal kebalikan, misalnya : siang-malam, gelap-terang
-          Menggunakan kata ganti aku atau saya
Dalam pelaksanaan pengembangan kemampuan berbahasa dapat menggunakan metode/teknik mengajar antara lain sebagai berikut :
1.      Bercerita Pengembangan Bahasa Anak 8
2.      Permainan Bahasa
3.      Sandiwara Boneka
4.      Bercakap-cakap
5.      Tanya jawab
6.      Dramatisasi
7.      Mengucapkan syair
8.      Bermain peran
9.      Karyawisata
Dalam mengembangkan kemampuan berbahasa, perlu memberi kesempatan pada anak untuk berbicara satu sama lain, namun lazimnya dalam kalimat-kalimat pendek dan tidak utuh. Anak juga memerlukan rangsangan-rangsangan seperti mendengarkan cerita-cerita pendek, melihat-lihat buku gambar dan mendengarkan lagu-lagu sederhana. Selain dari itu, guru dituntut pula untuk senantiasa memberi kesempatan kepada anak untuk menanyakan, membicarakan dan mengeksplorasi berbagai hal yang menarik bagi anak. Hendaklah sejak dini anak-anak dilatih untuk berbahasa dengan baik yaitu dengan melatih anak untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan, mengungkapkan pikirannya, dan diharapkan anak tidak diam tetapi anak yang aktif dalam berbagai kegiatan.
Dalam menggunakan metode/teknik untuk mengembangkan kemampuan berbahasa, guru dapat memilih salah satu atau gabungan dari beberapa metode yang sesuai dengan kemampuan yang ingin dicapai, fasilitas kegiatan belajar mengajar yang disajikan, dan disesuaikan pula dengan bahan pengembangan dan kebutuhan minat, kemampuan anak serta lingkungannya. Seorang guru juga harus benar-benar menguasai bahasa dan pandai berbicara. Dengan pengetahuan yang memadai serta kemampuan guru untuk memilih teknik pembelajaran yang tepat bagi upaya pengembangan kemampuan berbahasa anak, diharapkan anak dapat berkembang sesuai dengan potensi yang dimilikinya.









BAB III
PENUTUP
3.1 Simpulan
      Berdasarkan hal-hal yang telah dijelaskan di bab sebelumnya, kita dapat menyimpulkan bahwa sejak dilahirkan setiap individu telah diberikan bekal luar biasa oleh Tuhan berupa kemampuan yang biasa disebut insting dan potensi. Potensi adalah seluruh kemungkinan atau kesanggupan-kesanggupan yang terdapat pada suatu individu dan selama masa perkembangannya benar-benar dapat diwujudkan. Pembagian atau jenis-jenis potensi sendiri beragam, dan dalam perkembangan potensi tersebut peran orang tua atau pendidik sangat mempengaruhi.
          Masing-masing anak memiliki potensi yang berbeda-beda baik dalam kualitas atau dalam bidang dari potensi-potensi itu sendiri. Potensi belajar yang ada dalam diri anak dapat berkembang untuk mencapai tujuan pendidikan jika terdapat kesempatan dan perangsang. Tujuan pendidikan itu sendiri terdiri dari perkembangan motorik, intelegensi, emosi, karsa, fantasi, kesusilaan, serta perkembnagan bahasa.
           Bahasa adalah salah satu cara yang utama untuk mengekspresikan pikiran, dan dalam seluruh perkembangan, pikiran selalu mengdahului bahasa. Anak yang mengalami perkembangan bahasa dengan sendirinya juga mengalami perkembangan potensi belajar lain. Hal tersebut dikarenakan perkembangan bahasa dapat dilihat dari sejauh mana tingkat perkembangan intelegensi, emosi, fantasi dan perkembangan lainnya. Sebagai alat komunikasi bahasa merupakan sarana yang sangat penting dalam kehidupan anak. Disamping itu bahasa juga merupakan alat untuk menyatakan pikiran dan perasaan kepada orang lain yang sekaligus berfungsi untuk memahami pikiran dan persaan orang lain. Selain itu bahasa juga merupakan pintu gerbang ilmu pengethauan, dengan berbahasa anak dapat berkomunikasi dengan sesama. Kemampuan imitasi menjadi modal penting dalam perkembangan bahasanya. Anak senang meniru bunyi-bunyi tertentu ataupun ucapan-ucapan orang-orang disekitarnya.

3.2 Saran-saran
      Agar potensi dalam diri anak dapat berkembang dengan baik diperlukan pembinaan. Pembinaan ini datangnya dari luar diri anak atau siswa, yaitu lingkungan. Lingkungan tersebut termasuk lingkungan pendidikan dan lingkungan tempat tinggal.
    Para pendidik baik orang tua ataupun guru harus dapat menemukan potensi-potensi belajar apa saja yang dimiliki abak atau siswa, serta harus berusaha untuk mengembangkannya, karena pendidikan merupakan tempat yang memberikan kesempatan kepada kemungkinan-kemungkinan (potensi) yang ada pada seorang siswa untuk berkembang.
    Usahakan untuk menciptakan suasana yang nyaman untuk poses pengembangan potensi belajar ataupun potensi berbahasa anak atau siswa. Bangun motivasi mereka agar mau terus semangat mengembangkan potensi yang dimiliki secara aktif. 








DAFTAR PUSTAKA

Agus Soejono, 1980. Pendahuluan Ilmu Pendidikan Umum. Bandung : CV. Ilmu

Agus Sujamto, 1984. Psikologi Perkembangan. Jakarta : Aksara Baru

Ngalim Purwanto, M. 1984. Psikologi Pendidikan. Bandung : CV. Remaja Karya.

Hadis, Fawzia Aswin, (tt). Psikologi Perkembangan Anak. Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan


Hurlock, Elizabert B. (1978). Child Development. Sixth Edition. New York : Mc. Graw Hill. Inc.

Jumat, 12 Juni 2015

Tugas Pengantar Kreativitas dan Keberbakatan: Artikel

Nama:   Ajeng Septiana
NPM :   10514662
Kelas:    1PA10


Narsisisme
Oleh Evi Sukmaningrum
Konsep dan istilah narsisisme berawal dari sebuah mitologi Yunani kuno tentang seorang pemuda tampan dari Thespian bernama Narsisus yang ditakdirkan untuk hidup hingga ia melihat dirinya dan jatuh hati pada citra diri yang dilihatnya.
Berdasarkan mitologi tersebut berkembanglah konsep narcisism (dalam tulisan ini penulis menggunakan kata: narsisisme) yang pada mulanya digunakan untuk menggambarkan orang yang jatuh cinta dengan citra dirinya sendiri atau suatu bentuk hukuman bagi orang-orang yang tidak dapat mencintai orang lain. Pada tahun 1899, Paul Nacke, seorang psikiater berkebangsaan Jerman menggunakan istilah Narcismus yang merujuk pada “attitude of a person who treats his own body in the same way as otherwise the body of sexual object is treated. ”. Dengan perkataan lain , seseorang mengalami kenikmatan seksual pada saat menatap, membelai dan mencintai tubuhnya. Konsep narsisisme dari Nacke inilah yang kemudian menjadi dasar bagi konsep narsisisme yang digunakan oleh Freud (1914). Dalam perkembangannya, pemahaman narsisisme dalam teori Freud tidak hanya mengenai perilaku abnormal dalam kehidupan seksual individu, tetapi lebih menekankan pada instink untuk melindungi diri sendiri (self perseveration) yang ada pada setiap makhluk hidup.
Freud (1914) menggambarkan konsep narsisisme dalam teorinya mengenai metapsikologi (metapsychological). Konsep ini digunakan untuk menggambarkan tahapan perkembangan libido normal antara tahap autoerotik (autoeroticism) dan object love. Narsisisme timbul ketika libido (energi psikis) diinvestasikan untuk memenuhi kepuasan diri sendiri sehingga ada ketidakmampuan untuk menginvestasikannya kepada orang lain atau demi kepentingan orang lain. Perilaku yang muncul sebagai akibat dari narsisisme ini terlihat sebagai rasa cinta diri (self love) yang berlebihan.
Selanjutnya, di bidang klinis, Freud (dalam Raskin & Terry, 1988) menggunakan konsep narsisime dalam kategori diagnostik untuk menggambarkan fenomena perilaku sebagai berikut :
  • Sikap seseorang terhadap dirinya sendiri, misalnya cinta terhadap diri sendiri (self love), mengagumi diri sendiri (self admiration), membesar-besarkan diri sendiri/ perilaku ekspansif (self aggrandizement)
  • Kerentanan self esteem seseorang yang meliputi ketakutan akan kehilangan cinta dan ketakutan akan kegagalan
  • Orientasi pertahanan diri yang meliputi megalomania, idealisasi, penyangkalan (denial) dan proyeksi
  • Kebutuhan untuk dicintai, memenuhi diri sendiri (self sufficiency) dan kebutuhan untuk menjadi sempurna
  • Dalam hubungan dengan orang lain memperlihatkan sikap yang menunjukkan bahwa dirinya “lebih” dari orang lain
Setiap manusia memiliki 2 bentuk objek seksual yaitu : diri mereka sendiri dan wanita yang merawatnya. Selanjutnya, Freud membuat postulat mengenai narsisisme primer pada setiap orang dimana di kemudian hari akan dimanifestasikan melalui dominasi pemilihan objek (object-choice) cinta.
Freud (1914) membagi individu ke dalam 2 kelompok yang berbeda berdasarkan pemilihan objek:
1. Narcissistic Type
Pada individu-individu yang mengalami gangguan pada perkembangan libidinal, seperti pada homoseksual, dimana pemilihan objek cinta bukanlah ibunya melainkan diri mereka sendiri. Mereka secara jelas melihat diri mereka sebagai objek cinta.
Berdasarkan tipe narsisistik ini, maka seseorang mungkin akan memilih objek cinta :
  1. diri mereka sendiri
  2. diri mereka dahulu
  3. diri yang diinginkan
  4. seseorang yang dulu pernah menjadi bagian dari dirinya 
2. Anaclitic Type
Pengalaman auto-erotic sexual gratification yang pertama terjadi ketika individu melakukan self preservation. Yang muncul di awal adalah sexual instinct yang kemudian dilanjutkan oleh ego-instinct; selanjutnya mereka terbebas dari insting-insting tersebut dan mengubah objek seksual mereka ke dalam aktivitas feeding, perhatian dan perlindungan yang diberikan oleh ibunya.
Berdasarkan tipe anaclitik, maka seseorang mungkin akan memilih objek cinta :
  1. wanita yang mengasuh/ merawatnya
  2. laki-laki yang memberikan proteksi 
Dinamika Narsisisme
Freud berpendapat bahwa seorang bayi merasa dirinya sempurna dan sangat berpengaruh. Ia memiliki pikiran yang terbatas dan tidak terbatas (omnipotence of thought). Semua energi libido digunakan untuk memuaskan kebutuhan psikologisnya dan untuk merawat keberadaannya. Investasi dasar dari energi ini diberi nama “Ego Libido” atau narsistik. Insting-insting autoerotis adalah instink yang sifatnya primodial dan melalui insting inilah narsisisme mulai muncul pada diri individu. Selanjutnya, Freud membagi narsisisme menjadi 2, yaitu ;
1. Narsisisme primer
Pada narsisisme primer, energi libido diarahkan pada diri sendiri untuk memuaskan diri sendiri. Pada saat tertentu, sesuai dengan perkembangannya, si bayi tidak lagi menemukan kepuasan diri yang sempurna melalui pikirannya ini. Ia kemudian mengalami interupsi dalam pemuasan narsisistiknya (narcissisistic self-absorption). Pada akhirnya ia akan mengalihkan energi libidonya pada orang lain untuk mencari kepuasan itu walaupun baginya kepuasan ini tidak sesempurna yang pertama.
2. Narsisisme sekunder
Sedangkan pada narsisisme sekunder, investasi energi libido tersebut dialihkan kepada orang lain tapi tetap dilakukan dengan tujuan untuk dapat memuaskan diri sendiri. 
Freud (1911 dalam Siegel, 1996) mencoba untuk menerangkan perkembangan narsisisme ini melalui studi mengenai psikosis. Freud mencoba menganalisis buku harian milik Schreber, seorang hakim yang menulis buku harian pada saat ia mengalami episode psikosis. Analisis Freud menggunakan buku harian tersebut yang menggambarkan delusi paranoid yang dialami Schreber untuk mempelajari proses yang terjadi dalam psikosis. Freud meyakini bahwa patologi mendasar dalam psikosis tersebut adalah terjadinya regresi pada tahap narsistik dimana pada tahap itu tidak ada kelekatan (attachment) terhadap objek. Freud membangun perkembangan kontinum dari object attachment yang diawali dengan tahap narsistik (objectless) dan bergerak menuju tahap objek cinta, suatu tahapan dimana objek tersebut dicintai dan dihayati sebagai sesuatu yang terpisah.
Perkembangan Konsep Narsisisme
Konsep narsisisme yang dikembangkan oleh Freud sangat mempengaruhi pemikiran psikoanalisa modern. Salah satu pemahaman narsisisme dalam bidang klinis dari perspektif psikoanalisa modern dapat ditemukan pada teori Kohut. Kohut (dalam Siegel, 1996) melihat narsisime sebagai suatu tahapan perkembangan diri. Sementara itu, manifestasi dari narsisisme yang tidak sehat adalah depresi dan kehampaan perasaan sebagaimana ia temui pada beberapa pasiennya. Keluhan mereka berkisar pada kemungkinan hilangnya makna dan gairah hidup mereka sehingga mereka menjalani hidup dengan berat hati.
Menurut Kohut, kebutuhan utama yang diperlukan dalam perkembangan narsisisme yang sehat adalah
  1. kebutuhan untuk dicerminkan yang dimanifestasikan melalui kebutuhan anak-anak untuk mendapatkan pengakuan, persetujuan, dan kekaguman terhadap ekspresi dan perilaku mereka. Orang yang paling penting untuk pencerminan ini adalah ibu.                                                                                                                  
  2. kebutuhan untuk mengidealisasikan yang dimanifestasikan melalui kekaguman dan identifikasi pada orang dewasa yang lebih berkuasa. Orang yang paling diidealkan oleh anak biasanya adalah ayahnya. 
Berkaitan dengan kontinum perkembangan narsistik dari Freud, maka Kohut berusaha untuk menambahkan pemahaman narsisisme berdasarkan sudut pandangnya yang sedikit berbeda dengan konsep obyek cinta pada Freud sebagai titik akhir dari kematangan narsisisme. Bagi freud, penolakan dari narsisisme untuk kepentingan obyek cinta adalah tujuan dari treatment Freud, sementara ide Kohut mengenai narsisisme membawa pada implikasi terapetik.
Kohut menyatakan bahwa pengalaman narsistik diawali pada masa dimana bayi mulai merasakan kebahagiaan atau disebut juga infant’s blissful state. Bayi berusaha untuk mempertahankan tahap ini dengan mengembangkan 2 bentuk narsistik yang sempurna, dimana masing-masing sistem berkembang dari narsisisme primer yang terpecah, yang selanjutnya sering dikenal sebagai bipolar self ;
1. Narcissistic Self
Merupakan satu sistem yang membuat suatu ‘perfect self’, suatu bentuk perkembangan dimana segala sesuatu terlihat baik, menyenangkan dan sempurna sebagai bagian dari dalam dirinya. Sementara itu, segala sesuatu yang buruk adalah bagian dari luar dirinya. Narsisisme tidak diinvestasikan kepada orang lain melainkan diinvestasikan untuk diri sendiri dengan memberikan penilaian yang terlalu tinggi terhadap diri. Mereka berharap mendapatkan pandangan yang penuh kekaguman dari orang lain. Narcissistic self sangat berkaitan erat dengan dorongan-dorongan dan tekanan yang pada akhirnya memberikan kontribusi pada munculnya ambisi.
2. Idealized Parent Imago
Sistem ini berusaha untuk mengembalikan blissful state yang hilang dengan cara memberikan kekuasaan dan kesempurnaan yang absolut kepada orang lain. Kelekatan dengan figur ‘perfect’ mengembalikan perasaan yang utuh dan menyenangkan. Idealisasi dari idealized parent imago dihasilkan melalui proyeksi dari kebahagiaan bayi; kekuasaan dan kesempurnaan, terhadap orang tuanya. Idealized parent imago dipandang dengan penuh kekaguman sebagai objek yang selanjutnya memberikan kontribusi pada munculnya figur ideal.

Kontekstualisasi Konsep Narsisisme
Dalam era modern saat ini, narsisisme muncul sebagai cara untuk mengatasi tekanan dan kecemasan yang dirasakan. Lasch (1979) menggunakan konsep narsisisme dalam lingkup masyarakat yang luas. Suatu bentuk masyarakat baru membutuhkan bentuk kepribadian yang baru dan cara sosialisasi yang baru. Pada saat masyarakat memilih narsisisme, selanjutnya akan berkembang menjadi kondisi sosial yang dapat meningkatkan trait narsistik yang ada dengan derajat yang berbeda-beda pada setiap orang. Salah satu kondisi yang ada dalam masyarakat modern sekarang ini hal-hal yang memiliki andil dalam membentuk masyarakat yang narsistik yaitu :
    • Perubahan dalam nilai kesuksesan seseorang. Pada masyarakat modern, kesuksesan seseorang dinilai dari kemampuannya untuk dapat menampilkan citra sukses, bukan pada kemampuan seseorang untuk mengatasi masalah ataupun tindakan yang telah dilakukannya. Kesuksesan dinilai dari atribut yang dimiliki seseorang, misalnya kekayaan, kekuasaan, dan ketenaran yang dimiliki (Lasch, 1979)
    • Lowen (1985) membahas narsisisme pada tingkat individual maupun tingkat budaya. Pada tingkat budaya, narsisme dapat dilihat sebagai hilang atau berkurangnya nilai-nilai kemanusiaan (loss of human values) yang terlihat dari berkurangnya perhatian pada lingkungan, pada kualitas kehidupan individual, dan nilai-nilai persahabatan yang ada di antara individu.

Berangkat dari pemikiran di atas, maka penelitian mengenai narsisisme di Indonesia memiliki peluang yang sangat besar untuk dikembangkan dengan melihat keanekaragaman budaya Indonesia dan kecenderungan terjadinya perubahan nilai yang terjadi di masyarakat modern. Media massa dan pariwara, tampaknya ikut memberikan kontribusi dalam perubahan gaya hidup seseorang. Upaya pengembangan penelitian di Indonesia dapat dilakukan untuk memahami, misalnya:
    • Fenomena narsisisme dalam budaya tertentu.
    • Fenomena narsisisme dalam ranah politik, pemerintahan dan pelanggaran/penegakan hukum.
    • Peran masyarakat dan media massa dalam memberikan pengaruh pada berkembangnya kepribadian narsisistik.
    • Tokoh dan penokohan: membentuk dan memelihara kepribadian narsistik.
    • Keterkaitan antara gaya hidup masyarakat modern dengan berkembangnya kepribadian narsistik.
    • Peran pola asuh dalam memberikan pengaruh pada terbentuknya kepribadian narsistik.

Daftar Pustaka
Freud, Sigmund. 1914. On Narcissism : An Introduction. New York : Basic Book, Publishers
Lasch, C. 1979. The Culture of Narcissism. American Life in an Age of Diminishing Expectation. New York : W.W. Norton & Company
Raskin, R., Howard Terry. 1988. A principal-components analysis of the Narcissistic Personality Inventory and Further Evidence of Its Construct Validity. Journal of Personality and Social Psychology, 54, 890 – 902
Siegel, Alan M. 1996. Heinz Kohut and The Psychology of The Self. London : Clays.Ltd

Sumber
http://rumahbelajarpsikologi.com/index.php/kepribadian-mainmenu-61/narsisisme



Analisis
1.      Mengapa hal tersebut menjadi kreativitas bagi kelompok anda
Hal tersebut kreatif menurut kami, karena masalah yang dibahas diangkat dari Fenomena masa kini. Fenomena yang terjadi pada kebanyakan orang saat ini
2.      Bagaimana prospek jangka panjangya, apakah dapat terus berkembang, berikan alasan
Prospek jangka panjangnya akan terus berkembang seiring berkembangnya teknologi sehingga memudahkan orang-orang untuk mengekspresikan dirinya.
  1. Tantangan apa yang akan dihadapi untuk pengembangan atau jasa yang ditawarkan
Tantangannya harus selalu berusaha untuk tidak merugikan orang lain dengan cara menjaga attitude, sehingga ke narsisannya tidak menggangu orang lain. Untuk tidak menyalahgunakan dan tidak disalahgunakan. Contohnya : Dalam pengeditan foto.









Pendidikan Sebagai Sarana Penanaman Benih Karakter Anak Indonesia

PENDIDIKAN SEBAGAI SARANA PENANAMAN BENIH KARAKTER ANAK INDONESIA
Keluarga besar Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) ikut mendukung Hari Pendidikan Nasional bertema “Pendidikan dan Kebudayaan sebagai Gerakan Pencerdasan dan Penumbuhan Generasi Berkarakter Pancasila”
2 Mei 2015
Pembinaan karakter manusia Indonesia sudah menunjukkan urgensi sehingga muncul berbagai gerakan yang diharapkan dapat memperbaiki karakter individu. Semangat memperbaiki etos kerja dan meningkatkan karakter pekerjanya nampak di berbagai instansi yang memasang visi, misi dan filosofi kerja yang berlaku. Di sekolah-sekolah pun banyak slogan dipampang untuk mengingatkan siswa agar belajar lebih rajin, lebih disiplin, menjaga kebersihan dan kerapihan diri. Tujuannya agar peserta didik ingat bahwa untuk menjadi lebih baik, mereka perlu menunjukkan perilaku-perilaku tertentu. Pembentukan karakter harus melewati suatu proses belajar yang membutuhkan latihan dan pengulangan.
Pada masyarakat tradisional, pembentukan karakter dilakukan melalui penanaman rasa malu. Hal ini terlihat dari penggunaan kata ora ilok, ngisin-isini dalam bahasa Jawa atau siri dalam bahasa Bugis. Seorang anak berusaha mencapai nilai baik karena tidak ingin merasa malu di hadapan teman-temannya, sehingga ia membiasakan diri untuk memperhatikan guru, belajar dan menyelesaikan pekerjaan rumah agar tidak harus malu atas kegagalan. Jika toh gagal, karakter perilaku yang baik ini tidak membuatnya harus menanggung malu. Namun dalam prakteknya, masih banyak contoh perilaku tidak berkarakter tersaji dalam keseharian, misalnya melanggar lampu lalu lintas dan melawan arus di jalan raya; atau korupsi waktu-uang, bullying terhadap rekan kerja dan sebagainya. Apakah sudah luntur rasa malu di masyarakat kita, sehingga menyaksikan perilaku tak berkarakter menjadi pemandangan yang biasa?
Secara psikologis rasa malu atau rasa bersalah seseorang didasari oleh emosi moral yang terdiri dari emosi malu dan emosi bersalah. Emosi moral diperlukan untuk menjembatani standar moral yang dianut seseorang dengan perilaku moral yang ditampilkannya. Gambaran pengetahuan dan internalisasi dari norma moral yang dimiliki oleh seorang individu disebut sebagai standar moral (Tangney, Stuewig, & Mashek, 2007). Standar moral yang dimiliki oleh seorang individu sebagian didikte oleh hukum moral universal, dan sebagian lagi dibentuk oleh larangan-larangan spesifik dalam sebuah budaya.
Menurut Tangney (1999), emosi malu merupakan internalisasi emosi negatif yang dialami individu saat ia gagal memenuhi aturan sosial. Emosi malu memunculkan perasaan negatif yang tidak menyenangkan yang kemudian memotivasi individu untuk menghindar dan melarikan diri dari situasi tersebut. Lingkungan sosial berperan penting dalam memunculkan emosi malu. Keluarga atau lingkungan mengajarkan bahwa melakukan sesuatu yang salah itu memalukan. Tracy dan Robins (2004) memandang emosi bersalah justru mendorong individu untuk memperbaiki tindakannya, bukan menghindar, artinya ada unsur konstruktif ketika seseorang merasa bersalah.

Untuk membangun karakter, emosi malu dan emosi bersalah sebagai bagian dari emosi moral sangat dipengaruhi oleh faktor sosial dan terkait dengan situasi sosial. Munculnya emosi malu dan emosi bersalah bersumber dan dipelajari dari keluarga, pendidikan, situasi kerja dan sebagainya. Benar-salah, baik-buruk seharusnya diajarkan secara eksplisit baik di rumah maupun di sekolah, bukan merupakan hidden curriculum. Dengan hanya menekankan penanaman emosi malu tanpa diikuti oleh bagaimana konstruksi karakter yang positif sebagai reaksi terhadap emosi malu tersebut, anak membangun pandangan diri negatif serta kurang/sulit mengembangkan harga diri.
Menurut Aristoteles, agar dapat tertanam karakter yang baik pada individu, maka ia perlu memiliki kebajikan intelektual, yaitu seseorang secara aktif melatih kemampuan nalarnya. Dengan melatih kemampuan berpikir, maka seseorang dapat mengatur impuls-impuls dan keinginannya menjadi lebih bijak dan menunjukkan karakter moral yang baik. Keluarga dan sekolah sebagai setting pendidikan perlu mengajarkan standar perilaku dan pengajarannya melalui aktivitas yang kontekstual, yaitu sesuai dengan budaya dan nilai yang berlaku (Vygotsky, 1978).
Penanaman emosi moral secara sistematis dapat dilakukan melalui pengembangan moral reasoning (penalaran moral) anak. Penalaran moral merupakan proses sistematik yang dilakukan untuk mengevaluasi kebajikan pribadi dan mengembangkan serangkaian prinsip moral secara konsisten dan obyektif (Lumpkin, 2003, dalam Lumpkin, 2008). Caranya dengan mulai mendiskusikan suatu isu secara aktif dalam berbagai situasi. Vygotsky (1978) menegaskan pentingnya anak secara aktif mengkonstruk pikirannya, kemudian menilai situasi dan perilaku yang muncul sehingga anak mengalami proses belajar yang bermakna.
Jika pemahaman di atas dikaitkan dengan pembentukan karakter yang berdasarkan Pancasila untuk anak-anak Indonesia melalui pendidikan, secara konkrit latihan pengembangan penalaran moral dapat dilakukan misalnya guru, anak dan orangtua dapat berdiskusi, berdebat, menyampaikan opini dan saran tentang suatu isu yang berkaitan dengan moral. Salah satu contoh yang sering digunakan misalnya
“Bagaimana pendapatmu bila anak mencuri obat sebagai bentuk cinta bagi orangtua yang sakit?”.
Latihan ini membantu anak melatih penalaran moralnya berdasarkan argumen nilai moral yang ada pada ke-5 sila dalam Pancasila. Diharapkan melalui latihan ini, kesadaran moral akan karakter yang baik dan diterima oleh lingkungan sosialnya menjadi bagian dari pembelajaran yang menyenangkan dan terkondisi dengan kuat sejak usia muda dan tidak mudah bergeser dalam situasi yang sulit karena dilakukan dengan penalaran moral dan kesadaran penuh.
Benarkah melalui pendidikan dapat tumbuh generasi berkarakter Pancasila? Salah satu unsur penting adalah bahwa kita semua yang lebih dewasa mampu mendidik diri sendiri menjadi role model karakter yang memancarkan jiwa Pancasila itu sendiri.

Ditulis oleh :
 Dr. Lucia RM Royanto, MSi, MSpEd, Psikolog (Ketua Asosiasi Psikologi Pendidikan Indonesia)
Disetujui oleh :
Dr. Seger Handoyo, Psikolog (Ketua Umum HIMPSI
Sumber :


Analisis
1.      Mengapa hal tersebut menjadi kreativitas bagi kelompok anda.
Karna pendidikan itu merupakan suatu cara untuk mengembangkan keterampilan, kebiasaan, dan sikap-sikap yang diharapkan dapat membuat seseorang menjadi warga Negara yang baik dengan karakter yang terdidik.
Hal tersebut kami anggap penting untuk di bahas, karena melihat banyaknya kasus penelantaran anak dan kekerasan pada anak. Seharusnya orang tua harus memberikan pendidikan yang baik sebagai sarana penanaman benih karakter anak tersebut.

2. Bagaimana prospek jangka panjang, apakah dapat terus berkembang. Berikan alasan
Prospek jangka panjangnya Pendidikan akan terus berkembang seiring dengan berjalannya waktu, selain itu pendidikan di Indonesia akan terus berkembang apabila kualitas para pendidik baik guru ataupun orang tua semakin baik.

3. Tantangan apa yang akan di hadapi untuk pengembangan/jasa yang ditawarkan.
Tantangannya Dipengaruhi oleh lingkungan yang kurang baik dan memperbaiki kualitas pendidikan baik guru ataupun orang tua.




Gerakan Mata Bukan Indikator Seseorang Bohong Atau Tidak



Psikologi Zone, Jakarta – Banyak orang mengira kebohongan mudah diketahui hanya dengan melihat gerakan bola mata. Pasalnya gerakan mata seseorang juga dapat dimanipulasi oleh diri mereka sendiri.
Sebuah penelitian telah dilakukan oleh peneliti kebangsaan Inggris dan Kanada mengatakan, tidak ada hubungan antara gerakan bola mata ke kanan dan ke atas dengan tanda-tanda seseorang sedang berbohong.
Begitu juga sebaliknya, gerakan bola mata ke kiri dan ke atas sebagai tanda seseorang jujur tidak terbukti.
Psikolog dari Universitas Edinburgh, Caroline Watt, PhD yang menjadi peneliti dalam studi ini mengatakan, “Sebagian besar masyarakat percaya bahwa gerakan mata tertentu adalah tanda berbohong, dan ide ini bahkan diajarkan di kursus pelatihan organisasi,” ungkap Watt, Senin (16/7).
Ia menambahkan, penelitian mereka bukan memberikan dukungan dan sebagainya, penelitian ini justru memberikan petunjuk untuk kembali melihat kebenaran dari deteksi semacam ini.
Penelitian ini dilakukan dalam tiga bagian, studi pertama dengan 32 partisipasi yang mayoritas adalah mahasiswa. Mereka diperintahkan untuk menyembunyikan ponsel di tempat tertentu. Masing-masing di wawancara untuk mengetahui siapa yang berkata jujur dan tidak.
Setiap peserta akan direkam untuk mengetahui gerakan bola mata dan tatapan mereka saat diwawancara.
Hasilnya, tidak ditemukan perbedaan yang signifikan antara gerakan bola mata mereka dengan kebenaran atau kebohongan yang diungkapkan.
Namun, gerakan tersebut tidak bisa diketahui hanya dari hitungan gerakan bola mata, mungkin butuh seseorang yang sangat terlatih untuk melihat gerakan halus.
Hal yang sama terbukti melalui penelitian ke dua, pada studi ini para peneliti menunjuk 50 orang untuk dilatih membaca gerakan bola mata. Mereka ditunjukkan pada sebuah video pada penelitian pertama untuk mendeteksi kebohongan.
Hasil penelitian tersebut menunjukkan, gerakan mata tidak dapat menjadi acuan seseorang itu berbohong atau tidak.
“Hasil penelitian ini menjelaskan alasan yang cukup bahwa gerakan bola mata adalah indikator yang buruk untuk deteksi kebohongan,” kata Watt. (ini/mba)

Sumber :
http://www.psikologizone.com/gerakan-mata-bukan-indikator-seseorang-bohong-atau-tidak/065116870


Analisis :
1.      Mengapa hal tersebut menjadi kreativitas bagi kelompok anda
Karena menurut kelompok kami karana menyimpang dari teori micro ekspresion dalam ilmu psikologi. Dalam micro ekspresion gerakan mata adalah salah satu indikator penentuan seseorang berbohong atau tidak.
2.      Bagaimana prospek jangka panjangya, apakah dapat terus berkembang, berikan alasan
Prospek jangka panjangnya akan terus di pertanyakan kebenarannya seiring dengan berkembangnya ilmu psikologi.
3.      Tantangan apa yang akan dihadapi untuk pengembangan atau jasa yang ditawarkan
Tantangannya harus membuktikan kebenaran hal tersdebut dan akan menerima banyak argument dari seseorang yang berbeda anggapan .